Violetcampus’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

MEMBEDAH PERUT UNTUK MENGELUARKAN BAYI

Oleh
Syaikh Abddurrahman As-Sa’di

Pertanyaan.
Syaikh Abdurrahman As-Sa’di ditanya : “Apakah boleh membedah perut mayat wanita hamil untuk mengeluarkan bayi yang masih hidup?”

Jawaban.
Boleh, demi kemaslahatan dengan tidak menimbulkan kerusakan, dan perbuatan itu tidak termasuk melakukan penyiksaan terhadap mayat. Saya pernah ditanya tentang seorang wanita yang meninggal yang di dalam perutnya terdapat bayi yang masih hidup, apakah perut wanita itu harus dibedah untuk mengeluarkan bayi itu atau tidak ? Saat itu saya menjawab : Hal ini telah diketahui dari apa yang dikatakan oleh para ulama rahimahullah, mereka mengatakan : Jika seorang wanita hamil meninggal dan di dalam perutnya terdapat bayi yang masih hidup maka haram hukumnya membedah perut wanita itu, akan tetapi dengan cara pengobatan dan memasukkan tangan untuk mengambil janin bayi jika masih bisa diharapkan untuk hidupnya. Jika terdapat halangan dalam melaksanakan hal itu maka mayat itu tidak dikubur dahulu hingga bayi yang di dalam perutnya itu mati. Jika sebagian tubuh bayi itu telah keluar dalam keadaan hidup maka untuk mengeluarkan bagian lainnya, boleh dengan cara membedah perut mayat jika diperlukan.

Pendapat para ahli fiqih ini didasari dengan suatu ketetapan hukum, bahwa perbuatan semacam itu berarti penyiksaan terhadap mayat yang pada dasarnya diharamkan melakukan penyiksaan terhadap mayat, kecuali jika dalam melakukan perbuatan ini terdapat kemaslahatan yang besar dan nyata, yaitu jika sebagian tubuh bayi telah keluar dan dalam keadaan hidup, maka boleh mengeluarkan bagian lainnya dengan cara membedah perut, karena dengan demikian berarti ada kemaslahatan bagi bayi yang akan dilahirkan. Artinya, jika bedah tidak dilakukan maka akan menimbulkan bahaya baru bagi si bayi, dalam keadaan seperti ini kepedulian terhadap yang hidup harus lebih banyak dan lebih besar dari pada yang telah meninggal.

Akan tetapi pada zaman ini ilmu kedokteran telah semakin canggih, di mana proses pembedahan perut atau sebagian tubuh lainnya tidak termasuk penyiksaan terhadap mayat, sehingga hal itu dapat dilakukan pada manusia hidup dengan seizin dan kehendak mereka yang kemudian disertai dengan berbagai macam pengobatannya.

Maka kemungkinan besar ahli fiqih itu, bila menyaksikan kecanggihan ilmu kedokteran saat ini, akan menetapkan hukum dibolehkannya membedah perut mayat wanita hamil yang didalamnya terdapat bayi yang masih hidup, terutama bila telah selesai masa kehamilannya dan diketahui atau diduga bahwa bayi masih hidup.

Di antara alasan yang membolehkan membedah perut mayat hamil untuk mengeluarkan janin bayi yang masih hidup adalah kaidah Ushul Fiqh (Kaidah-kaidah Umum Fiqh) yang mengatakan : Jika ada tolak belakang antara beberapa kemaslahatan dan beberapa kerusakan, maka yang harus didahulukan adalah kemaslahatan yang lebih besar di antara dua kerusakan. Ini artinya bahwa tidak membedah perut adalah suatu kemaslahatan, dan selamatnya bayi untuk tetap hidup adalah suatu kemaslahatan yang lebih besar, bagitu juga sebaliknya bahwa membedah perut adalah suatu kerusakan sementara membiarkan bayi hidup di dalam perut ibunya yang telah meninggal hingga bayi mati tercekik adalah suatu kerusakan yang lebih besar.

Dengan demikian, membedah perut adalah kerusakan yang lebih ringan. Kita kembali kepada masalahnya, kami berpendapat bahwa membedah pada zaman ini tidak termasuk penyiksaan terhadap mayat dan tidak termasuk kerusakan, maka dengan demikian tidak ada hal yang menghalangi pembedahan mayat untuk mengeluarkan bayi yang masih hidup. Wallahu A’lam.

[Al-Majmu'ah Al-Kamilah, Syaikh Abdurrahman As-Sa'di, 7/136]

[Disalin dari kitab Al-Fatawa Al-Jami'ah Lil Mar'atil Muslimah edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Tentang WanitaFatwa-Fatwa Tentang Wanita 1, hal 193-194, Darul Haq]

Juni 21, 2009 Ditulis oleh lukman hakim | Anak, ilmu pengetahuan, keluarga, syareah, wanita | , , , , , , | Belum Ada Tanggapan

DAYA INGAT YANG MENGAGUMKAN

Bayi pun bisa mengingat, lo. Apalagi jika pengalaman itu amat berkesan di hatinya, akan dibawanya hingga besar.

Orang tua mana, sih, yang ingin dilupakan oleh buah hatinya? Jadi, wajar saja, ya, Bu-Pak, bila kita cemas kala harus meninggalkan si kecil yang baru beberapa bulan untuk waktu lama, entah lantaran urusan pekerjaan atau mendapat tugas belajar di luar kota/negeri. Jangan-jangan, sekembalinya kita dari tugas, si kecil tak lagi mengenali kita.

Padahal, kecemasan tersebut sebenarnya tak perlu terjadi. Soalnya, meski masih bayi, si kecil sudah punya daya ingat dan memori. Jadi, “bayi akan teringat terus, baik pada hal-hal yang punya kesan amat manis maupun tak menyenangkan,” tutur Dra. Dewi Mariana Thaib. Bahkan, meski kesan tersebut hanya selintas-lintas saja dan akan terlewat dengan kejadian lain yang lebih menyenangkan, si kecil tetap ingat.

DIDAPAT DARI PENGALAMAN

Daya ingat, terang psikolog pada RS Bunda, Jakarta ini, sebetulnya bagian dari kecerdasan. “Dalam kecerdasan itu, kan, ada perkembangan motorik, daya nalar, emosi, daya ingat, dan konsentrasi.” Jadi, daya ingat masuk dalam perkembangan kognitif.

Memang, diakui Dewi, fungsi daya ingat bayi belum terlalu banyak. Kita pun tak bisa memastikan kapan bayi akan ngeh dengan apa yang dilihat atau diingatnya, karena daya ingat merupakan hal yang abstrak. “Daya ingat adalah sesuatu yang pada akhirnya mengarah pada keberadaan diri dengan lingkungan sosialnya, entah dia suka atau tidak berada pada lingkungan sosialnya.” Dengan demikian bisa dikatakan, daya ingat didapat bayi dari pengalaman dan yang diajarkan.

Daya ingat yang diperoleh dari pengalaman ini, lanjut Dewi, amat erat kaitannya dengan perkembangan motorik maupun tugas-tugas perkembangan. “Begitu lahir, bayi, kan, harus beradaptasi dengan keadaan sekelilingnya.

Kecemasan-kecemasan mulai timbul dan pancaindra mulai berfungsi. Ia mulai kontak dengan ibu saat digendong dan disusui ASI sambil meraba-raba tubuh sang ibu.”

Kemudian di usia 3-6 bulan ia mulai mengangkat kepalanya, belajar mengenal orang, tersenyum, mengoceh, mencoba meraih benda yang didekatnya. Setelah usia 6 bulan, ia mulai belajar pelan-pelan merangkak, tengkurap bolak balik, duduk, dan sebagainya. “Nah, bila dulu daya serapnya lewat mainan hanya sekadar dapat meraih saja, kini sudah bisa dipegang-pegang dan dipindah-pindah tangan. Ia juga sudah bisa membedakan mana orang tuanya.”

Berikutnya, di usia 9 bulan ia mulai punya rasa, seperti rasa manis dan asin. Makanya, bila ia tak suka asin, ia akan menolak kala diberi makanan yang rasanya asin. Lalu di usia 9-12 bulan ia sudah bisa berdiri, meraih segala sesuatu, melihat sekelilingnya, berkata satu-dua kata, bahkan bisa berjalan. Jadi, daya jangkaunya sudah lebih luas lagi.

“Meski fungsi indra dan intelektualnya belum sempurna seluruhnya, tapi ia mulai merasakan reaksi dari apa yang dilakukannya. Dari situ ia mulai mengingat, apa yang boleh dan tidak dilakukannya.” Misal, di usia 6-9 bulan, kala ia menjatuhkan mainan, ia berpikir hal itu menyenangkan dan ia akan mengingatnya kembali, hingga ia pun menjatuhkan lagi mainannya.

CEMAS DAN MENARIK DIRI

Jadi, sangat erat kaitannya dengan tugas-tugas perkembangannya: ia belajar dari apa yang dilakukannya atau pengalamannya. Pada bayi normal, terang Dewi, ia pun bisa merasakan reaksi dari yang sudah ia lakukan, dan apakah hal itu menyenangkan atau tidak. Pengalaman yang menyenangkan akan terus diulang-ulang.

Nah, pengalaman menyenangkan atau berkesan ini akan melekat dan membekas terus dalam ingatannya. Itulah mengapa, pada masa 0-12 bulan ini diharapkan kehadiran bayi bisa diterima dan dirinya merasa nyaman di lingkungannya. Apalagi, meski belum mengerti, bayi pun bisa merasakan dirinya diterima atau tidak. “Ia bisa melihat bagaimana sikap ibu yang penuh kasih sayang, entah dari cara si ibu menyanyi, mengajak bicara, tersenyum, dan sebagainya.”

Bila si ibu bisa menerimanya dengan penuh kasih sayang, ia pun akan merasa aman, nyaman, dan diterima dalam lingkungan sosialnya yang baru di dunia. Hal ini akan tampak dari pancaran matanya yang selalu berbinar, pandangannya yang tak kosong, dan wajahnya yang kerap tersenyum. “Biasanya bayi-bayi seperti ini akan tumbuh jadi bayi lucu dan menyenangkan pula.”

Sebaliknya, ia pun bisa merasakan bila tak diterima, yakni dari sikap sang ibu yang kasar padanya, entah karena si ibu belum siap menerima kehadiran anaknya atau sebab lain. Pengalaman tak menyenangkan ini akan membekas di ingatannya. Dampaknya, “ia selalu dilanda kecemasan dan akan menarik diri dari hal-hal tak menyenangkan yang diterimanya dari lingkungan.” Itu sebab, tekan Dewi, jangan sampai di tahun pertama ini bayi punya trauma berat. “Kelak ia akan jadi takut dan mengalami kesulitan bila masuk ke lingkungan sosial.”

MENDETEKSI DAYA INGAT

Tentunya, daya ingat bayi tak sama pada tiap anak: ada yang baik dan tidak. Untuk mendeteksinya, lihat saja tugas-tugas perkembangannya.

“Bila ia dapat melewati tugas-tugas perkembangannya dengan baik dan tanpa kesulitan, berarti kecerdasannya normal,” kata Dewi. Soalnya, pada anak cerdas, biasanya daya ingatnya juga baik. Jadi, bayi-bayi yang kecerdasannya normal cenderung lincah dan cepat bereaksi pada sesuatu hal, kecuali jika mengalami kegemukan atau lebih kerap digendong.

Nah, jika tugas-tugas perkembangan yang dilaluinya meleset agak jauh atau tak sesuai, biasanya kecerdasannya pun tak begitu bagus. “Daya ingat yang tak begitu baik ini biasanya tampak dari caranya menangkap instruksi: ia takkan mengerti instruksi yang diberikan padanya.” Jadi, bila dalam tugas-tugas perkembangannya ia tak menunjukkan respon, kita patut curiga dan segera telusuri sebabnya.

Walau begitu, bukan berarti tiap bayi yang kala dipanggil namanya tak menoleh atau disodori mainan diam saja, maka daya ingatnya tak baik, lo. “Pada tiap anak, masalah yang dipunyainya tentu beda. Bisa saja bukan daya ingatnya yang tak baik, tapi karena ada masalah di indra pendengarannya atau saat ibu hamil punya penyakit tertentu yang bisa berpengaruh pada perkembangan kecerdasan bayi, dan sebagainya.”

Bisa juga karena kurang dilatih motoriknya hingga ia mengalami keterlambatan perkembangan.” Bayi gemuk dan sering dipangku, misal, bisa jadi motoriknya lamban. Makanya, disarankan agar orang tua rajin menstimulasi bayinya di tahun pertama ini. Soalnya, masa ini merupakan penentuan karakter si bayi kelak. Lagi pula, bila kita rajin menstimulasi si kecil, kita jadi tahu bagaimana perkembangannya. Hingga, bila dirasa ada keterlambatan, kita bisa segera memeriksakannya ke dokter: apakah ada sesuatu dengan telinganya, mata, otak, atau sarafnya. Setidaknya, bila terdeteksi di usia ini, masih mungkin diobati ketimbang bila ia sudah usia balita.

Yang jelas, Bu-Pak, bila dirasa si kecil punya daya ingat tak baik, segera periksakan ke dokter. Terlebih bila kita sudah rajin menstimulasinya, tapi ternyata ia tak juga mengalami kemajuan perkembangan. Selain itu, harus pula disadari, daya ingat bayi pada sesuatu hal bisa berubah. “Jadi, bisa saja pengalaman itu terlupakan bila banyak pengalaman lain yang lebih berkesan.” Kecuali bila pengalaman yang menyenangkan itu amat membekas, maka tak mudah dilupakan. Sama halnya bila ia mendapat pengalaman tak menyenangkan yang amat membekas, juga akan teringat terus. Misal, orang tua memperlakukannya secara kasar.

Disamping tentu saja, bila terjadi sesuatu hal yang berpengaruh pada kepala atau otaknya, semisal akibat terjatuh atau mengalami kejang-kejang, akan membuat daya ingatnya juga berubah.

AJARKAN BERULANG-ULANG

Untuk merangsang daya ingat, tutur Dewi, bisa dilakukan dengan berbagai cara seperti mengajak bicara, bermain, bernyanyi, dan lainnya. Namun cara menstimulasinya harus benar, yaitu yang menyenangkan, bukan dipaksa. Selain itu, komunikasi tak boleh dilupakan. Jadi, kita harus sering mengajaknya bicara. “Biasanya kalau sang ibu rajin, usia 9 bulan bayi sudah mulai mau berkata- kata.”

Tentunya, dalam menstimulasi juga perlu alat peraga atau benda yang dimaksud. Misal, “Ini bola.” sambil kita tunjukkan bolanya, lalu kata-kata tersebut diulang-ulang dengan menggunakan pertanyaan, “Mana bolanya?” Bila daya ingatnya baik, lama-kelamaan saat ditanya ia akan cepat memberi respon. Jadi, kala ditanya, “Mana bolanya?”, ia akan langsung menunjuk benda yang dimaksud.

Di usia setahun biasanya ia sudah bisa sedikit bicara, satu atau dua kata, hingga kita bisa menggunakan cara dengan pertanyaan dibolak-balik seperti, “Ini apa?” sambil memperlihatkan sebuah bola, atau, “bolanya mana?” Makanya, begitu si kecil tampak mulai ada keinginan bicara, alat peraga sebaiknya diperbanyak. Kita bisa membuatnya sendiri dari guntingan gambar yang ditempelkan pada potongan-potongan karton kecil. Carilah gambar yang tak terlalu besar semisal gambar buah apel. Sambil ditunjukkan karton bergambar itu, katakan, “Ini apel.” Agar ia lebih mudah mencerna maksudnya, lebih baik lagi bila ada apel yang sebenarnya atau apel mainan dari plastik.

Dengan seringnya bayi melihat dan diajarkan berulang-ulang, akan melekat di kepalanya, hingga otomatis daya ingatnya juga baik. Hal ini juga berlaku, pada contoh di awal tadi. Jika ayah harus meninggalkan bayinya untuk waktu lama, maka ibu harus sering-sering memperlihatkan foto-foto ayah maupun memperdengarkan suara ayah ketika sedang menelepon atau rekaman suaranya. Dengan demikian diharapkan si kecil tak asing lagi atau tak merasa takut kala dipegang ataupun menjerit saat bertemu dengan ayahnya kelak.

Cara ini juga bisa dilakukan untuk mengenalkan anggota keluarga yang jarang bertemu semisal kakek-nenek atau om-tante. Pendeknya, orang tua harus rajin mengenalkan hal-hal di sekelilingnya, mengenai dirinya, keberadaannya, dan hubungannya dengan orang-orang di sekelilingnya. Jadi, tak usah takut lagi si kecil bakal lupa sama orang tuanya, ya, Bu-Pak.

Dedeh Kurniasih . Foto : Iman (nakita)

Juni 20, 2009 Ditulis oleh lukman hakim | Anak, cinta, ilmu pengetahuan, keluarga, syareah, wanita | , , , , , , | Belum Ada Tanggapan

Tahapan Perkembangan Usia 0-1 Tahun

* 1 bulan – Dapat mengangkat kepala sebentar ketika tengah tengkurap. – Refleks menggenggamnya makin berkembang kuat. – Bisa melihat pola hitam-putih dari jarak 8 inci dari wajahnya. – Menggunakan ekspresi wajah untuk menarik perhatian kita. * 2 bulan – Dapat mengangkat kepala setinggi 45 derajat selama beberapa menit. – Kepala tetap tegak takkala dipegang dalam posisi berdiri. – Menenangkan diri dengan cara mengisap jari atau dot. – Mata mengikuti objek yang bergerak. * 3 bulan – Dapat mengangkat kepala setinggi 90 derajat ketika tengkurap. – Kepala tegak dalam posisi didudukkan. – Melihat berbagai warna dengan jelas. – Menggunakan tangan yang mengepal ketika memukul mainan atau suatu objek. – Muncul senyum sosial pertama. * 4 bulan – Memasukkan setiap objek ke mulut (sebagai tanda eksplorasi). – Mengeksprolasi tangan dan kakinya sendiri. – Dapat mengenali orang dan objek. – Mulai mengkonsumsi makanan semi padat. – Berguling dari arah depan ke belakang atau sebaliknya. – Mengangkat dada ketika tengkurap dengan di-support kedua tangannya. * 5 bulan – Berceloteh dan tertawa keras. – Kepala tegak dalam posisi diberdirikan. * 6 bulan – Menggerak-gerakkan mainan yang berbunyi. – Dapat memindahkan suatu objek dari tangan satu ke tangan lain. – Dapat duduk sendiri. – Dapat memegang botol sendiri. – Bisa berkata “ba”, “ga” , “ma” atau kombinasi konsonan dan vokal lainnya. – Menunjukkan kelekatan dengan cara menangis ketika orang yang dekat dengannya pergi. – Meraih objek yang menarik perhatiannya. * 7 bulan – Berdiri dengan bantuan. – Menggunakan cara berguling untuk bergerak. – Dapat memegang kuping cangkir dengan bantuan. – Menunjukkan rasa cemas melihat orang baru. * 8 bulan – Dapat makan craker atau makanan yang kecil. – Melihat ketika ada barang jatuh. – Merangkak dalam jarak dekat. – Berusaha berdiri. – Menggunakan tangan yang tergenggam untuk memungut barang. – Bermain ciluk ba. – Menggunakan telunjuk untuk menunjuk sesuatu. * 9 bulan – Berkata “mama” atau “dada” – Mengambil makanan dengan jari. – Dapat melangkah sebentar dengan bantuan. – Merangkak ke tangga. – Merespon beberapa perkataan terutama bila dipanggil namanya. * 10 bulan – Berdiri dengan bantuan. – Dapat duduk dari posisi berdiri. – Dapat ditarik dari posisi tidur ke posisi duduk. – Mencari objek yang disembuyikan. – Mengulang suara atau gerakan untuk menarik perhatian. – Dapat melambaikan tangan. * 11 bulan – Berceloteh panjang. – Mengangkat tangan atau kaki ketika dipakaikan baju. – Memegang cangkir atau gelas sendiri. – Merambat (berjalan dengan memegang meja atau benda lainnya). – Berjalan beberapa langkah tanpa berpegangan sesuatu. * 12 bulan – Berdiri tanpa bantuan. – Berjalan tanpa/dengan bantuan. – Memberikan ciuman ketika diminta. – Mengambil dan memberikan mainan. – Menggerakkan benda ketika mencari mainan/objek. C/Hani

AGAR SI PEMALU BERANI BICARA Buat anak pemalu, jangankan untuk berbicara, diminta menyapa orang lain saja, belum tentu ia mau melakukannya. Nah, agar si pemalu berani omong di lingkungan sosialnya, kita perlu mendukungnya untuk lebih percaya diri. Misalnya dengan mengatakan, “Kemarin Tante di sebelah rumah senang sekali waktu Kakak mengucapkan salam kepadanya. Ia benar-benar suka sama Kakak.” Namun buat anak yang terlalu ramah terhadap orang-orang di sekitarnya, ia perlu masukan dari kita tentang bagaimana mengendalikan keramahan yang berlebihan. Misal, “Boleh-boleh saja, kok, Kakak mengucapkan ‘Halo’, asalkan kepada teman-teman sebayamu. Namun jangan digunakan pada saat kita bertemu dengan orang yang lebih tua karena tak sopan.” MENGAJARKAN KEAMANAN DIRI Di usia prasekolah, lingkungan sosial anak makin luas. Itu sebab, ia perlu diajarkan menjaga keamanan dirinya, seperti, “Jangan pernah berbicara dengan orang asing, sekalipun jika mereka minta pertolongan,” atau “Jangan pernah menerima makanan maupun minuman apa pun dari seseorang yang belum kita kenal sama sekali.” Kita bisa mengajarinya lewat permainan peran agar ia lebih mudah menyerap informasi yang kita berikan. Misal, tanyakan padanya, “Andaikan suatu waktu ada seorang anak yang lebih besar dari Kakak memaksa untuk mencarikan kucing peliharaannya yang hilang, apa yang akan Kakak lakukan?” Beri tahukan pula langkah apa yang akan kita ambil bila menghadapi hal tersebut, yaitu, “Segera menyingkir dan mencari orang dewasa yang kita kenal untuk meminta bantuan.” AJARKAN MENGONTROL DIRI Anak-anak yang pemberani perlu dibantu untuk mengendalikan dorongan dalam dirinya. Kalau tidak, keberaniannya bisa mencelakakan dirinya sendiri. Misal, si kecil melompat tinggi-tinggi di atas jalan beraspal. Jika terjatuh, tentu ia bisa terluka. Namun melarangnya juga bukan cara yang bijak. Paling baik, jelaskan padanya seperti, “Ibu tahu Kakak bisa melakukannya. Namun menurut Ibu, lompatan itu sepertinya terlalu tinggi buat Kakak padahal Kakak akan jatuh di aspal. Jadi, sebaiknya coba dulu melompat di atas rumput.” Akan halnya si penakut, yang perlu kita lakukan adalah mendorongnya untuk lebih percaya diri akan kekuatan tubuhnya. Misal, si kecil takut naik perosotan, katakan, “Walaupun perosotan itu sepertinya tinggi, tapi Ibu pikir cukup aman karena Kakak akan mendarat di pasir. Coba, deh, nanti Ibu yang akan menangkap Kakak begitu sampai di bawah.” C/Hendi

Bayi pun Bisa Mengenali Dirinya, Lo! Seiring berjalannya waktu, hubungan antar jaringan-jaringan sinapsis yang bertugas mengatur “program kerja” di otak akan semakin kuat. Kian eratnya hubungan antar jaringan inilah yang antara lain menumbuhkan sense of self dalam diri seseorang. Artinya, si kecil pun mulai mengenali dirinya sebagai individu/makhluk independen. Ada cara sederhana yang bisa kita pakai untuk menguji apakah sense of self ini sudah terbentuk dalam diri si kecil. Coba oleskan sedikit lipstik di hidungnya, lalu ajak ia bercermin. Bayi-bayi yang baru berusia sekitar 4 bulan, umumnya hanya akan menunjuk-nunjuk ke bayangan wajah yang muncul di cermin tanpa memberi reaksi berlebih karena memang belum bisa mengenali dirinya. Namun bayi-bayi yang lebih besar akan menunjukkan reaksi berbeda. Awalnya, mereka akan tertegun, tapi lalu segera memperlihatkan kegembiraan luar biasa. Mereka langsung menyentuh dan menggosok-gosokkan olesan lipstik di hidung mereka saat dihadapkan ke cermin. Soalnya, jelas Esther Thelen dari Universitas Indiana, AS, pada tahapan usia belasan bulan inilah bayi mulai mengenali bahwa yang terpantul di cermin adalah wajah mereka. Nah, Bu-Pak, cikal bakal pengenalan dan kebanggaan diri inilah yang perlu terus dipupuk agar anak semakin menemukan jati dirinya saat dewasa kelak. N/Yanti

Ayah-Ibu, Hati-Hati Bertingkah Laku Sering, kan, kita mendengar nasehat agar selama hamil, calon bapak dan ibu tak bertingkah laku yang neko-neko; pandai-pandai mengendalikan sikap dan perilaku? Tujuannya, agar anak yang lahir kelak menjadi anak baik dan tak terpengaruh tindakan ibu-ayahnya saat ia masih di kandungan. Memang, sampai saat ini belum ada kepastian ilmiah seberapa jauh tindakan ayah-ibu selama ibu hamil, akan berpengaruh pada perilaku anak setelah dilahirkan. Yang jelas, perkembangan ilmu pengetahuan tentang perkembangan anak selama ini menunjukkan, selain kondisi fisik-fisiologis ibu saat hamil, keadaan lingkungan kehidupan ibu juga berpengaruh pada perkembangan bayi. “Ternyata bayi tak tumbuh seperti parasit yang mengambil semua zat terbaik dari ibu demi perkembangan dirinya. Semua hal yang dialami ibu, akan mempengaruhi janin secara tak langsung melalui reaksi fisiologis ibu yang dampaknya akan mengenai kondisi uterus sebagai lingkungan kehidupan janin,” jelas dra. Shinto B. Adelar, Msc., di acara Ibu Bayi & Balita yang ditayangkan di ANteve, kerja sama nakita dengan PT Endrass Perdana Film. Pertama, pengaruh obat-obatan, rokok, dan alkohol yang dikonsumsi ibu hamil membawa risiko pada bayi. “Ibu perokok banyak melahirkan bayi dengan berat badan lahir rendah, kurang responsif terhadap lingkungan, kewaspadaan kurang, perhatian kurang dan cepat bosan.” Kedua, stres emosional juga berdampak pada perkembangan perilaku bayi. “Ibu hamil yang berada dalam keadaan stes mengalami kecemasan yang kuat atau berkepanjangan cenderung lebih rentan terhadap abortus spontan, mengalami komplikasi persalinan, kelahiran prematur, berat badan lahir rendah, kesulitan pernafasan.” Ibu yang mengalami depresi berat atau berkepanjangan berisiko melahirkan bayi yang pasif, terlihat seperti mengantuk dan sering menangis. Stres mempengaruhi susunan saraf otonom, hingga hormon adrenalin akan diproduksi cukup banyak. Nah, hormon akan menembus plasenta masuk ke aliran darah, hingga bayi juga mengalami stres, detak jantungnya lebih cepat, banyak sekali bergerak, dan pasokan oksigen berkurang. Dalam keadaan stres, darah disalurkan ke seluruh bagian tubuh agar siap untuk menghadapi bahaya, hingga pasokan ke uterus berkurang. Pada janin dalam keadaan stres, nutrisi ternyata tidak/kurang dapat diserap/dimanfaatkan untuk pertumbuhan badan hingga berat badan lahir bayi menjadi rendah. Setelah lahir, bayi cenderung jadi irritable atau lekas marah, gelisah dan temperamen sulit. Hal ini dapat berpengaruh jangka panjang seperti hasil penelitian menunjukkan, anak yang mengalami stres saat di kandungan ternyata lebih banyak mengalami masalah psikologis dibandingkan yang tak mengalami stres. Untuk itu, ibu hamil perlu memperoleh lingkungan yang supportive dari pasangan, orang tua, dan mertua. Calon ibu perlu menata diri agar kondisi emosionalnya positif.

Mengenal Skizofrenia : Gejalanya Mirip Hiperaktif Namun jangan buru-buru “menuduh” si kecil yang hiperaktif menderita skizofrenia, ya, Bu-Pak. Soalnya, untuk menegakkan diagnosis skizofrenia pada anak bukan hal mudah dan harus ekstra hati-hati. “Butuh observasi tingkah laku lebih jauh, terutama pada anak dengan gangguan berbahasa yang berat. Pada kasus-kasus seperti ini perlu waktu terapi lebih lama,” tutur Dr. Eliyati D. Rosadi, SpKJ., psikiater anak pada Sanatorium Dharmawangsa, Jakarta. Selain itu, kemunculan skizofrenia amat jarang terjadi pada balita. Dari populasi penderita di Indonesia yang diperkirakan berjumlah sekitar 2 juta orang, hanya 0,1-1 persen anak usia di bawah 10 tahun yang mengalaminya. Jadi, bisa dibayangkan betapa kecil kemungkinannya. Cuma, bila ada anggota keluarga yang menderita penyakit ini, perlu perhatian lebih. Soalnya, faktor genetik merupakan penyebab potensial munculnya skizofrenia. “Kemunculannya 5-20 kali lebih besar pada orang yang punya hubungan saudara ketimbang populasi umum.” Adapun yang lebih berpeluang mendapat “warisan” penyakit ini ialah anak lelaki karena kromosomnya XY. Jadi, entah ayah/ibunya yang menderita, peluangnya sama besar buat si Buyung. Bukan berarti yang lainnya aman-aman saja, lo. Sebab, komplikasi kehamilan dan persalinan juga berpotensi memunculkan penyakit ini. Misal, ibu hamil terkena TORCH, demam tinggi akibat influensa berat atau rubella/campak, ketuban pecah dini atau berwarna hijau dan partus lama. Soalnya, kejadian-kejadian tadi memperbesar risiko janin mengidap traumatic brain injury. Begitu juga bila ibu hamil tercemar zat-zat beracun semisal alkohol dan nikotin. Itu sebab, ibu hamil selalu dianjurkan menjauhkan diri dari hal-hal yang merugikan kesehatan diri dan janinnya. Sementara komplikasi persalinan berupa tindakan yang menimbulkan trauma/perlukaan. Penyebab lain, faktor organik seperti terganggunya proses maturasi/kematangan saraf pusat, juga memunculkan skizofrenia. Misal, komplikasi perinatal/bayi baru lahir seperti perubahan pada batok kepala, baik dalam bentuk maupun ukuran yang akan berpengaruh pada otak bayi. Bisa juga karena kerusakan susunan saraf pusat akibat tumor otak dan trauma kepala, atau ada kemunduran kerja saraf, gangguan metabolisme, maupun kerusakan otak akibat infeksi atau sebab lain. CIRI-CIRI Skizofrenia merupakan gangguan perkembangan saraf yang berakibat pada fungsi kognisi, afeksi, dan hubungan sosial. Gangguan ini bersifat kronis dan bisa terbilang gangguan jiwa taraf berat karena penderita mengalami split personality/jiwa terbelah. Kendati di tingkat ringan, penderita bisa hidup normal; di tingkat sedang, dapat menjalani kehidupan sehari-hari tapi disertai keluhan berkepanjangan. Kecuali di tingkat berat, penderita sulit membedakan alam nyata dengan alam fantasinya. Pada anak, terang Eliyati, skizofrenia muncul perlahan berupa ketaknormalan perkembangan secara umum dan kepribadian, mencakup gangguan tingkah laku dan gangguan perkembangan yang berlipat ganda, yaitu gangguan kekurangan fungsi kognitif, motorik, sensorik, dan fungsi sosial. Adapun ciri-cirinya tak beda dengan penderita dewasa, yakni ada halusinasi (mendengar suara tanpa ada sumber suara). “Namun pada anak, ciri ini bukan harga mati sebagai gejala pasti skizofrenia. Soalnya, mungkin saja merupakan imajinasi belaka, salah interpretasi dari pengalaman intrapsikisnya, maupun salah mengerti pertanyaan atau gejala gangguan psikotik lainnya.” Yang jelas, skizofrenia ditandai adanya waham, yaitu pikiran yang salah karena bertentangan dengan dunia nyata tapi diyakini sebagai kebenaran semisal mengaku utusan nabi atau anak raja. Ciri lain yang dominan adalah disorganisasi berupa pola pikir dan tingkah laku yang kacau serta aneh seperti bicara sendiri, bicara ngaco karena asosiasi longgar, atau bahkan pola pikirnya tak logis. Selain itu, sulit menyusun kalimat/kata dengan benar lantaran antar kata sering tak nyambung karena mereka juga tak mampu mengolah informasi. Namun jangan salah, bukan berarti penderita skizofrenia adalah orang-orang yang ber-IQ rendah, lo. Justru mayoritas penderitanya ber-IQ tinggi, sedangkan yang ber-IQ rendah cuma 10-20 persen. Penderita juga “hobi” mengumpulkan sampah atau menimbun makanan tanpa tujuan, sering mengamuk/marah tanpa sebab, gelisah, gaduh, melenturkan atau bahkan mematung dan mengkakukan diri. Juga sering bengong, tak banyak bicara karena pikirannya miskin, apatis, dan tak punya keinginan untuk berbuat apa pun. Kemampuan afeksinya tumpul akibat memburuknya gangguan perasaan, yang bukan diakibatkan oleh perubahan suasana hati/mood. Begitu pula kemampuan daya pikirnya menurun secara progresif, hingga mengalami kemunduran belajar secara berlebihan. Bertumpuknya gangguan-gangguan tadi membuat yang bersangkutan mengalami kegagalan mencapai tahap perkembangan sosial yang diharapkan sesuai usianya. Terlebih fungsi sosialnya pun mengalami gangguan dengan menarik diri atau bahkan mengisolasi diri dari kehidupan sosial. Sementara kemampuan menolong diri sendiri juga hilang, hingga kondisi kesehatan dirinya buruk sekali. Kebersihan dirinya menurun drastis, semisal seminggu penuh ogah mandi, jarang ganti baju, atau mengenakan baju berlapis-lapis tanpa alasan. PENGOBATAN Upaya pengobatan ditempuh melalui 3 cara secara bersamaan: obat-obatan, rehabilitasi dan terapi psikologik. Tentu disesuaikan juga dengan perkembangan yang khas pada penderita, kebutuhan keluarga, dan perbedaan tingkat gangguan. Yang jelas, Bu-Pak, untuk membantu proses penyembuhan atau mengurangi tingkat kekambuhan, dukungan orang tua dan lingkungan amat berarti. Minimal dengan tak menganggap penderita sebagai musuh, pengacau atau orang yang harus disingkirkan karena menimbulkan aib bagi keluarga. Selain itu, Eliyati menyarankan orang tua si penderita atau mereka yang berpeluang terkena skizofrenia agar tak mematok tuntutan kelewat tinggi maupun mengumbar amarah saat anak gagal melakukan tugas tertentu. Soalnya, meski sudah dinyatakan sembuh, 30 persen gejala sisa pada skizofrenia akan kambuh. Yanti

Juni 20, 2009 Ditulis oleh lukman hakim | Anak, cinta, ilmu pengetahuan, keluarga, wanita | , , , , , | Belum Ada Tanggapan

Menahan Marah

Menahan Marah
Oleh : Suryana Abdurrauf

Suatu hari Rasulullah SAW bertamu ke rumah Abu Bakar Shidiq. Ketika sedang bercengkerama dengan Rasulullah, tiba- tiba datang seorang Arab badui menemui Abu Bakar dan langsung mencela Abu Bakar. Makian, kata- kata kotor keluar keluar dari mulut orang itu. Namun, Abu Bakar tidak menghiraukannya. Ia melanjutkan perbincangan dengan Rasulullah. Melihat hal ini Rasulullah tersenyum.

Kemudian orang Arab badui itu kembali memaki Abu Bakar. Kali ini makian dan hinaannya lebih kasar. Namun, dengan keimanan yang kokoh serta kesabarannya, Abu Bakar tetap membiarkan orang tersebut. Rasulullah kembali memberikan senyum.

Semakin marahlah orang Arab badui ini. Untuk ketiga kalinya ia mencerca Abu Bakar dengan makian yang lebih menyakitkan. Kali ini selaku manusia biasa yang memiliki hawa nafsu, Abu Bakar tidak dapat menahan amarahnya. Dibalasnya makian orang Arab badui itu dengan makian pula. Terjadilah perang mulut. Seketika itu Rasulullah beranjak dari tempat duduknya. Ia meninggalkan Abu Bakar tanpa mengucapkan salam.

Melihat hal ini, selaku tuan rumah Abu Bakar tersadar dan menjadi bingung. Dikejarnya Rasulullah yang sudah sampai halaman rumah. Kemudian Abu Bakar berkata, ”Wahai Rasulullah, janganlah Anda biarkan aku dalam kebingungan yang sangat. Jika aku berbuat kesalahan, jelaskan kesalahan ku!”

Rasulullah menjawab, ”Sewaktu ada seorang Arab badui datang lalu mencelamu, dan engkau tidak menanggapinya, aku tersenyum karena banyak Malaikat di sekelilingmu yang akan membelamu di hadapan Allah. Begitu pun, yang kedua kali ketika ia mencelamu dan engkau tetap membiarkannya, maka para Malaikat semakin bertambah banyak jumlahnya. Oleh sebab itu, aku tersenyum. Namun, ketika kali yang ketiga ia mencelamu dan engkau menanggapinya, dan engkau membalasnya, maka seluruh Malaikat pergi meninggalkanmu. Hadirlah Iblis di sisimu. Oleh karena itu, aku tidak ingin berdekatan dengannya, dan aku tidak memberikan salam kepadanya.”

Demikian Rasulullah mengajarkan kepada kita untuk bersabar menahan amarah, dengan tidak membalas keburukan dengan hal-hal yang buruk pula. Allah berfirman, ”Hai orang-orang yang beriman, mohonlah pertolongan [kepada Allah] dengan sabar dan shalat. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.”

Juni 11, 2009 Ditulis oleh lukman hakim | Anak, ilmu pengetahuan, keluarga, syareah | , , , , , , | Belum Ada Tanggapan

Dakwah dan Obat

Dakwah dan Obat

Berserulah kepada jalan Tuhanmu dengan cara yang bijaksana (hikmah) dan dengan nasihat yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang lebih baik. (QS An-Nahl: 125)

Ketika menafsirkan firman Allah tersebut di atas, Muhammad Ali As Sayis, dalam kitabnya Tafsir Ayat Ahkam, memberikan sebuah perumpamaan yang indah tentang konsep, metode, dan efekifitas dakwah. Ia menyatakan bahwa metode dakwah adalah seperti obat. Satu jenis obat tidak bisa dipergunakan untuk seluruh penyakit. Obat tertentu hanya diformulasikan untuk mengobati penyakit tertentu pula. Bahkan, satu jenis obat bisa jadi tidak cocok untuk mengobati dua orang yang berbeda meskipun menderita penyakit yang sama. Lebih unik lagi, obat yang pada suatu saat cocok untuk mengobati penyakit tertentu, bisa jadi sudah tidak cocok lagi di waktu yang lain.

Demikianlah dakwah menuntut setiap orang untuk mampu secara bijaksana dan smart ‘cerdas’ menemukan metode dakwah yang tepat untuk sebuah objek dakwah (mad’u). Karena begitu banyaknya objek dakwah yang ada di sekitar kita, banyak cara, metode, dan strategi pun harus dipersiapkan bila kita memang ingin proyek dakwah membawa hasil yang maksimal.

Adagium, ”cara lebih utama daripada isi” merupakan salah satu kunci penting keberhasilan dakwah. Pesan kebenaran yang disampaikan dengan cara yang tidak tepat, tidak jarang justru membuat orang semakin jauh atau malah antipati terhadap kebenaran itu sendiri. Naudzubillah.

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Rasulullah bersabda, ”Siapa saja di antara kamu yang melihat suatu kemungkaran, hendaklah ia merubahnya dengan tangannya, dan bila tidak sanggup, hendaklah ia merubah dengan lidahnya, dan bila tidak sanggup juga, hendaklah ia merubahnya dengan hatinya. Itulah yang selemah-lemah iman.”

Tetapi apakah hadis tersebut di atas berarti bahwa Islam mengajarkan bahwa dakwah untuk menegakkan yang makruf dan mencegah yang mungkar harus dilakukan dengan kekerasan, anarkisme, atau radikalisme? Tentu tidak. Dakwah harus dijalankan dengan cara yang bijaksana, hikmah (wise). Dakwah harus ditebarkan dalam hawa kesejukan dan kedamaian. Dakwah harus dilakukan dengan kasih sayang dan niat yang ikhlas. Bukankah tidak semua penyakit harus diobati dengan operasi atau amputasi. Wallahu a’lam.


Juni 11, 2009 Ditulis oleh lukman hakim | Anak, enterprenuer, ilmu pengetahuan, keluarga | , , | Belum Ada Tanggapan

Menang karena Suci

Oleh : M Arifin Ilham

Yang menang itu hanya yang suci. Sungguh menanglah orang yang menyucikan dirinya dan sungguh kalahlah orang yang mengotori dirinya (QS Asy-Syams: 9-10). Allah Mahasuci lagi Maha-mensucikan, Subbuhun Quddusun Rabbuna wa Rabbul malaikat warruh. Karena itu, Allah, Ilah, Rabb, Malik, Khaliq itu bagi makhluk, bagi alam semesta. Semua ibadah yang diperintahkan maupun dilarang oleh-Nya sungguh untuk kesucian makhluk-Nya karena Allah yang mahasuci hanya menyukai kesucian: lahir batin, vertikal horizontal, material spiritual (QS Al-Baqarah: 222). Setidaknya, ada tiga kesucian yang harus dituju oleh setiap muslim.

Pertama, suci tujuan hidup. Semata-mata mencari keriaan Allah, tidak bersayap, tidak ada rekayasa dan jauh dari retorika. Semua itu dilakukan dengan tulus dari lubuk hati yang dalam tanpa dibuat-buat. Sehingga, hidup yang sesaat ini jelas terprogram, tidak ada yang sia-sia. Setiap langkah, gerak, napas, hanya untuk-Nya. Inilah yang lazim dikenal dengan ikhlas. Inilah nikmat yang paling nikmat yang Allah berikan kepada hamba-Nya. Surgalah bagi hamba Allah yang memiliki sifat ini karena tidak punya kepentingan apa pun, tidak lupa diri karena pujian, atau merasa rendah diri, apalagi mundur karean kritik atau hinaan sekalipun. Ia tidak mudah terjebak oleh keenakan sesaat, tetapi menderita berkepanjangan.

Kedua, suci horizontal. Ia jaga hubungan keluarga, tetangga, kawan, dan bahkan lawan sekalipun, dengan akhlak rupawan. Ia mampu menerjemahkan makna muslim hakiki yang berarti penyelamat, penebar kasih sayang (QS Al-Mu’minun: 96). Sehingga, ia dikagumi tidak hanya oleh saudaranya seiman, bahkan oleh nonmuslim. Bahkan, introspeksi dan koreksi ia lakukan terhadap dirinya. Adakah orang yang pernah ia zalimi dalam hidup ini? Kalau ada, ia cepat mengemis minta maaf. Uniknya, kalaupun benar segera minta maaf, ia bahkan memaafkan lebih dahulu walaupun tanpa diminta (QS Ali Imran: 159).

Ketiga, suci material. Najis zatnya atau rijsun cara mencarinya merupakan hal yang tabu baginya karena sesuatu yang tidak halal akan menjadi darah, daging, jantung, otak, dan hati, bahkan sperma. Itu sudah cukup membuat ia tidak khusyuk ibadah dan gelisah hidupnya. ”Tidaklah masuk surga darah yang mengalir dan daging yang tumbuh dari sesuatu yang tidak halal.” (HR Bukhari-Muslim). Halal kesukaannya, bahkan ia hanya bernafsu kepada yang halal (QS Al-Baqarah: 168).

Dari ketiga kesucian ini ia akan disayang oleh Yang Mahasuci dan ia terus dibimbing hingga ia benar-benar suci. Itulah kemenangan sejati. Walhamdu lillah Rabbil alamin.



Juni 11, 2009 Ditulis oleh lukman hakim | Anak, Kamut, syareah, wanita | , , , , | Belum Ada Tanggapan

Pengajaran Bagi Para Wanita

Majdi As-Sayyid Ibrahim


“Artinya : Dari Abu Bakar bin Sulaiman Al-Qursyi, dia berkata. ‘Sesungguhnya ada seorang laki-laki dalam kalangan Anshar yang mempunyai bisul. Lalu ditunjukkan bahwa Asy-Syifa’ binti Abdullah dapat mengobati bisul dengan ruqyah. Maka laki-laki Anshar itu mendatanginya lalu meminta agar dia mengobatinya lalu meminta agar dia mengobatinya dengan ruqyah. Asy-Syifa’ berkata. ‘Demi Allah, aku tidak lagi mengobati dengan ruqyah sejak aku masuk Islam’. Lalu laki-laki Anshar itu pergi menemui Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengabarkan kepada beliau tentang apa yang dikatakan Asy-Syifa’. Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggil Asy-Syifa, seraya berkata. ‘Perlihatkanlah (ruqyah itu) kepadaku !’. Maka dia pun memperlihatkannya. Lalu beliau berkata. ‘Obatilah dia dengan ruqyah, dan ajarkanlah ia kepada Hafshah sebagaimana engkau mengajarkan Al-Kitab kepadanya’. Dalam suatu riwayat disebutkan : ‘Mengajari menulis”. (Hadits shahih, ditakhrij Al-Hakim 4/56-57, menurutnya, ini adalah hadits shahih menurut syarat Asy-Syaikhani. Yang serupa dengan ini juga ditakhrij dari jalan lain oleh Abu Dawud, hadits nomor 3887, Ahmad 6/372)

Wahai Ukhti Muslimah !
Wasiat Nabawi ini mencakup dua bagian.

  1. Pembahasan tentang pengobatan dengan menggunakan ruqyah. Masalah ini sudah kami kemukakan dalam salah satu dari wasiat-wasiat beliau terdahulu. (ML-Assunnah tidak memuatnya -peny)
  2. Pengajaran tentang pengobatan dan menulis bagi para wanita.

Wahai Ukhti Muslimah !
Islam adalah agama persamaan, yang mempersamakan antara laki-laki dan wanita dalam masalah pahala dan siksa. Islam menganjurkan laki-laki dan wanita agar memikirkan ciptaan Allah dan berusaha untuk mendapatkan keridhaan-Nya.

Berangkat dari penjelasan ini, maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mewasiatkan Asy-Syifa’ agar mengajarkan ruqyah kepada Ummul Mukminin, Hafshah, setelah dia mengajarinya cara menulis.

Jadi, wanita juga harus belajar, mendatangi majlis-majlis ilmu dan bertanya kepada orang-orang yang berilmu tentang segala hal yang hendak diketahuinya, berupa urusan-urusan agamanya, jika sang suami tidak memiliki pengetahuan tentang hal itu. Tetapi yang dimaksudkan disini bukan sekedar ilmu yang diakhiri dengan memperoleh ijazah agar bisa mendapatkan pekerjaan. Tetapi yang dimaksudkan ilmu di sini adalah apa yang terkandung di dalam Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya.

Karena bagaimana mungkin engkau akan merasa puas jika engkau hanya menguasai ilmu yang berkaitan dengan urusan dunia, tetapi engkau tidak tahu urusan akhirat ? Atau bagaimana mungkin engkau berusaha untuk mendapatkan ilmu dunia, sementara engkau juga melakukan hal-hal yang membuat Allah marah, seperti ber-tabarruj, membuka aurat dan mementingkan hawa nafsu ?

Memang benar, para orang tua tidak bisa mencegah anak-anak putrinya untuk mencari ilmu. Tetapi bagaimana mungkin seorang ayah membiarkan anak putrinya pergi mencari ilmu, sedangkan dia tidak shalat, tidak pernah membaca Al-Qur’an dan bahkan tidak tahu hukum-hukum yang mestinya diketahui oleh wanita secara khusus dari urusan-urusan agamanya ? Islam telah mengajarkan kepada kita bahwa mencari ilmu karena Allah, merupakan gambaran ketakutan, mencari ilmu adalah ibadah, mengkajinya adalah tasbih, menganalisisnya adalah jihad, mengajarkannya kepada orang-orang yang tidak tahu adalah shadaqah, membiayai orang yang mencari ilmu adalah qurban, dan ilmu merupakan pendamping tatkala sendirian, dalil atas agama, Allah mengangkat suatu kaum karenanya, menjadikannya sebagai bukti dalam kebaikan dan dengan ilmu pula ibadah kepada Allah bisa menjadi sempurna, yang halal dan yang haram pun bisa diketahui.

Begitulah agama kita mengangkat kedudukan ilmu dan orang yang berilmu, menganjurkan laki-laki dan wanita untuk mencarinya. Tetapi bagaimana mungkin engkau berusaha mati-matian mendalami ilmu yang bisa mendukung kesuksesanmu di dunia, seperti ilmu arsitektur, kedokteran dan ilmu-ilmu lain, namun engkau melalaikan hal-hal yang memasukkanmu ke sorga dan menjauhkanmu dari neraka ?

Dengan cara melakukan instropeksi, engkau bisa bertanya kepada diri sendiri : Sejauh mana hukum-hukum dan ilmu agama yang engkau ketahui. Jika engkau mendapatkan kebaikan di sana, maka pujilah Allah, karena ini berasal dari karunia dan taufiq-Nya kepadamu. Dan, jika engkau mendapatkan selain itu, maka memohonlah ampun kepada Allah, kembalilah kepada-Nya dan carilah bekal dengan ilmu agamamu. Karena hal yang paling baik ialah mendalami agamamu, dan penderitaan adalah bagi orang-orang yang terpedaya oleh hal-hal yang tampak gemerlap dari ilmu-ilmu dunia, namun dia tidak memperdulikan ilmu akhirat. Firman Allah tentang hal ini.

“Artinya : Dan, barangsiapa berpaling dari pengetahuanku, maka sesungguhnya baginya kehidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpun-nya pada hari kiamat dalam keadaan buta”. (Thaha : 123)

Begitulah wasiat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menganjurkan para wanita agar berusaha mencari ilmu dan mendapatkannya.

Juni 11, 2009 Ditulis oleh lukman hakim | Anak, ilmu pengetahuan, keluarga, wanita | , , , , , | & Komentar

Makna “Al Birr”

Al Birr yaitu kebaikan, berdasarkan sabda Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam (artinya) :
“Al Birr adalah baiknya akhlaq”. (Diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahihnya Nomor 1794).

Al Birr merupakan haq kedua orang tua dan kerabat dekat, lawan dari Al ‘Uquuq yaitu kejelekan dan menyia-nyiakan haq..

“Al Birr adalah mentaati kedua orang tua didalam semua apa yang mereka perintahkan kepada engkau, selama tidak bermaksiat kepada Allah, dan Al ‘Uquuq dan menjauhi mereka dan tidak berbuat baik kepadanya.”
(Disebutkan dalam kitab Ad Durul Mantsur 5/259)

Berkata Urwah bin Zubair mudah-mudahan Allah meridhoi mereka berdua tentang firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala (artinya) :
“Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan.”
(QS. Al Isra’ : 24)

Yaitu: “Jangan sampai mereka berdua tidak ditaati sedikitpun”.
(Ad Darul Mantsur 5/259)

Berkata Imam Al Qurtubi mudah-mudahan Allah merahmatinya :
“Termasuk ‘Uquuq (durhaka) kepada orang tua adalah menyelisihi/ menentang keinginan-keinginan mereka dari (perkara-perkara) yang mubah, sebagaimana Al Birr (berbakti) kepada keduanya adalah memenuhi apa yang menjadi keinginan mereka. Oleh karena itu, apabila salah satu atau keduanya memerintahkan sesuatu, wajib engkau mentaatinya selama hal itu bukan perkara maksiat, walaupun apa yang mereka perintahkan bukan perkara wajib tapi mubah pada asalnya, demikian pula apabila apa yang mereka perintahkan adalah perkara yang mandub (disukai/ disunnahkan).
(Al Jami’ Li Ahkamil Qur’an Jil 6 hal 238).

Berkata Syaikhul Islam Ibn Taimiyyah mudah-mudahan Allah merahmatinya:
Berkata Abu Bakr di dalam kitab Zaadul Musaafir “Barangsiapa yang menyebabkan kedua orang tuanya marah dan menangis, maka dia harus mengembalikan keduanya agar dia bisa tertawa (senang) kembali”. (Ghadzaul Al Baab 1/382).

Hukum Birrul Walidain
Para Ulama’ Islam sepakat bahwa hukum berbuat baik (berbakti) pada kedua orang tua hukumnya adalah wajib, hanya saja mereka berselisih tentang ibarat-ibarat (contoh pengamalan) nya.

Berkata Ibnu Hazm, mudah-mudahan Allah merahmatinya.
“Birul Walidain adalah fardhu (wajib bagi masing-masing individu). Berkat beliau dalam kitab Al Adabul Kubra: Berkata Al Qodli Iyyad: “Birrul walidain adalah wajib pada selain perkara yang haram.”
(Ghdzaul Al Baab 1/382)

Dalil-dalil Shahih dan Sharih (jelas) yang mereka gunakan banyak sekali , diantaranya:
1. Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala (artinya) :
“Sembahlah Allah dan jangan kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua Ibu Bapak”.
(An Nisa’ : 36).
Dalam ayat ini (berbuat baik kepada Ibu Bapak) merupakan perintah, dan perintah disini menunjukkan kewajiban, khususnya, karena terletak setelah perintah untuk beribadah dan meng-Esa-kan (tidak mempersekutukan) Allah, serta tidak didapatinya perubahan (kalimat dalam ayat tersebut) dari perintah ini
(Al Adaabusy Syar’iyyah 1/434).

2. Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala (artinya) :
“Dan Rabbmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya”.
(QS. Al Isra’: 23).
Adapun makna ( qadhoo ) = Berkata Ibnu Katsir : yakni, mewasiatkan. Berkata Al Qurthubiy : yakni, memerintahkan, menetapkan dan mewajibkan. Berkata Asy Syaukaniy: “Allah memerintahkan untuk berbuat baik pada kedua orang tua seiring dengan perintah untuk mentauhidkan dan beribadah kepada-Nya, ini pemberitahuan tentang betapa besar haq mereka berdua, sedangkan membantu urusan-urusan (pekerjaan) mereka, maka ini adalah perkara yang tidak bersembunyi lagi (perintahnya). (Fathul Qodiir 3/218).

3. Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala (artinya) :
“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang Ibu Bapanya, Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan menyapihnya dalam dua tahun. Maka bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang Ibu Bapakmu, hanya kepada-Ku-lah kembalimu.” (QS. Luqman : 14).

Berkata Ibnu Abbas mudah-mudahan Allah meridhoi mereka berdua “Tiga ayat dalam Al Qur’an yang saling berkaitan dimana tidak diterima salah satu tanpa yang lainnya, kemudian Allah menyebutkan diantaranya firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala (artinya) :
“Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang Ibu Bapakmu”, Berkata beliau. “Maka, barangsiapa yang bersyukur kepada Allah akan tetapi dia tidak bersyukur pada kedua Ibu Bapaknya, tidak akan diterima (rasa syukurnya) dengan sebab itu.”
(Al Kabaair milik Imam Adz Dzahabi hal 40).

Berkaitan dengan ini, Rasulullah Shalallahu’Alaihi Wassallam bersabda (artinya) :
“Keridhaan Rabb (Allah) ada pada keridhaan orang tua dan kemurkaan Rabb (Allah) ada pada kemurkaan orang tua”
(Riwayat Tirmidzi dalam Jami’nya (1/ 346), Hadits ini Shohih, lihat Silsilah Al Hadits Ash Shahiihah No. 516).

4. Hadits Al Mughirah bin Syu’bah – mudah-mudahan Allah meridhainya, dari Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam beliau bersabda(artinya) :
“Sesungguhnya Allah mengharamkan atas kalian mendurhakai para Ibu, mengubur hidup-hidup anak perempuan, dan tidak mau memberi tetapi meminta-minta (bakhil) dan Allah membenci atas kalian (mengatakan) katanya si fulan begini si fulan berkata begitu (tanpa diteliti terlebih dahulu), banyak bertanya (yang tidak bermanfaat), dan membuang-buang harta”.
(Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahihnya No. 1757).

Keutamaan Birrul Walidain

Pertama : Termasuk Amalan Yang Paling Mulia
Dari Abdullah bin Mas’ud mudah-mudahan Allah meridhoinya dia berkata : Saya bertanya kepada Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam: Apakah amalan yang paling dicintai oleh Allah?, Bersabda Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam: “Sholat tepat pada waktunya”, Saya bertanya : Kemudian apa lagi?, Bersabada Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam “Berbuat baik kepada kedua orang tua”. Saya bertanya lagi : Lalu apa lagi?, Maka Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda : “Berjihad di jalan Allah”.
(Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dalam Shahih keduanya).

Kedua : Merupakan Salah Satu Sebab-Sebab Diampuninya Dosa
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman (artinya) :
“Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya….”, hingga akhir ayat berikutnya : “Mereka itulah orang-orang yang kami terima dari mereka amal yang baik yang telah mereka kerjakan dan kami ampuni kesalahan-kesalahan mereka, bersama penghuni-penghuni surga. Sebagai janji yang benar yang telah dijanjikan kepada mereka.”
(QS. Al Ahqaf 15-16)

Diriwayatkan oleh ibnu Umar mudah-mudahan Allah meridhoi keduanya bahwasannya seorang laki-laki datang kepada Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam dan berkata : Wahai Rasulullah sesungguhnya telah menimpa kepadaku dosa yang besar, apakah masih ada pintu taubat bagi saya?, Maka bersabda Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam : “Apakah Ibumu masih hidup?”, berkata dia : tidak. Bersabda beliau Shalallahu ‘Alaihi Wasallam : “Kalau bibimu masih ada?”, dia berkata : “Ya” . Bersabda Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam : “Berbuat baiklah padanya”.
(Diriwayatkan oleh Tirmidzi didalam Jami’nya dan berkata Al ‘Arnauth : Perawi-perawinya tsiqoh. Dishahihkan oleh Ibnu Hibban dan Al Hakim. Lihat Jaami’ul Ushul (1/ 406).

Ketiga : Termasuk Sebab Masuknya Seseorang Ke Surga :
Dari Abu Hurairah, mudah-mudahan Allah meridhoinya, dia berkata : Saya mendengar Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda : “Celakalah dia, celakalah dia”, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam ditanya : Siapa wahai Rasulullah?, Bersabda Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam : “Orang yang menjumpai salah satu atau kedua orang tuanya dalam usia lanjut kemudian dia tidak masuk surga”.
(Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahihnya No. 1758, ringkasan).

Dari Mu’awiyah bin Jaahimah mudah-mudahan Allah meridhoi mereka berdua, Bahwasannya Jaahimah datang kepada Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam kemudian berkata : “Wahai Rasulullah, saya ingin (berangkat) untuk berperang, dan saya datang (ke sini) untuk minta nasehat pada anda. Maka Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda : “Apakah kamu masih memiliki Ibu?”. Berkata dia : “Ya”. Bersabda Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam : “Tetaplah dengannya karena sesungguhnya surga itu dibawah telapak kakinya”.
(Hadits Hasan diriwayatkan oleh Nasa’i dalam Sunannya dan Ahmad dalam Musnadnya, Hadits ini Shohih. (Lihat Shahihul Jaami No. 1248)

Keempat : Merupakan Sebab keridhoan Allah
Sebagaiman hadits yang terdahulu
“Keridhoan Allah ada pada keridhoan kedua orang tua dan kemurkaan-Nya ada pada kemurkaan kedua orang tua”.

Kelima : Merupakan Sebab Bertambahnya Umur
Diantarnya hadit yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik mudah-mudahan Allah meridhoinya, dia berkata, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda :
“Barangsiapa yang suka Allah besarkan rizkinya dan Allah panjangkan umurnya, maka hendaklah dia menyambung silaturrahim”.

Keenam : Merupakan Sebab Barokahnya Rizki
Dalilnya, sebagaimana hadits sebelumnya.
Wallahu a’lam

Juni 10, 2009 Ditulis oleh lukman hakim | Anak, ilmu pengetahuan, syareah | | Belum Ada Tanggapan

Kado ini Tidak Dijual di Toko

Aneka kado ini tidak dijual di toko. Anda bisa menghadiahkannya setiap saat dan tak perlu membeli!
Meski begitu, delapan macam kado ini adalah hadiah yang tak ternilai bagi orang-orang yang Anda sayangi.
1. KEHADIRAN

Kehadiran orang yang dikasihi rasanya adalah kado yang tak ternilai harganya. Memang kita bisa juga hadir dihadapannya lewat surat, telepon, foto atau faks. Namun dengan berada disampingnya Anda dan dia dapat berbagi perasaan, perhatian, dan kasih sayang secara lebih utuh dan intensif. Dengan demikian, kualitas kehadiran juga penting. Jadikan kehadiran Anda sebagai pembawa kebahagian.
2. MENDENGAR

Sedikit orang yang mampu memberikan kado ini, sebab, kebanyakan orang lebih suka didengarkan, ketimbang mendengarkan. Sudah lama diketehui bahwa keharmonisan hubungan antar manusia amat ditentukan oleh kesediaan saling mendengarkan. Berikan kado ini untuknya. Dengan mencurahkan perhatian pada segala ucapannya, secara tak langsung kita juga telah menumbuhkan kesabaran dan kerendahan hati. Untuk bisa mendengar dengan baik, pastikan Anda dalam keadaan betul-betul relaks dan bisa menangkap utuh apa yang disampaikan. Tatap wajahnya. Tidak perlu menyela, mengkritik, apalagi menghakimi. Biarkan ia menuntaskannya. Ini memudahkan Anda memberi tanggapan yang tepat setelah itu. Tidak harus berupa diskusi atau penilaian. Sekedar ucapan terima kasihpun akan terdengar manis baginya.
3. D I A M

Seperti kata-kata, didalam diam juga ada kekuatan. Diam bisa dipakai untuk menghukum, mengusir, atau membingungkan orang. Tapi lebih dari segalanya. Diam juga bisa menunjukkan kecintaan kita pada seseorang karena memberinya “ruang”. Terlebih jika sehari-hari kita sudah terbiasa gemar menasihati, mengatur, mengkritik

bahkan mengomeli.

4. KEBEBASAN

Mencintai seseorang bukan berarti  memberi kita hak penuh untuk memiliki atau mengatur kehidupan orang bersangkutan. Bisakah kita mengaku mencintai seseorang jika kita selalu mengekangnya? Memberi kebebasan adalah salah satu perwujudan cinta. Maknakebebasan bukanlah, ” Kau bebas berbuat semaumu.” Lebih dalam dari itu, memberi kebebasan adalah memberinya kepercayaan penuh untuk bertanggung jawab atas segala hal yang ia putuskan atau lakukan.

5. KEINDAHAN

Siapa yang tak bahagia, jika orang yang disayangi tiba-tiba tampil lebih ganteng atau cantik? Tampil indah dan rupawan juga merupakan kado lho. Bahkan tak salah jika Anda mengkadokannya tiap hari! Selain keindahan penampilan pribadi, Anda pun bisa menghadiahkan keindahan suasana dirumah. Vas dan bunga segar cantik di

ruang keluarga atau meja makan yang tertata indah, misalnya.

6. TANGGAPAN POSITIF

Tanpa, sadar, sering kita memberikan penilaian negatif terhadap pikiran, sikap atau tindakan orang yang kita sayangi. Seolah-olah tidak ada yang benar dari dirinya dan kebenaran mutlak hanya pada kita. Kali ini, coba hadiahkan tanggapan positif. Nyatakan dengan jelas dan tulus. Cobalah ingat, berapa kali dalam seminggu

terakhir anda mengucapkan terima kasih atas segala hal yang dilakukannya demi Anda. Ingat-ingat pula, pernahkah Anda memujinya. Kedua hal itu, ucapan terima kasih dan pujian (dan juga permintaan maaf ), adalah kado cinta yang sering terlupakan.
7. KESEDIAAN MENGALAH

Tidak semua masalah layak menjai bahan pertengkaran. Apalagi sampai menjadi cekcok yang hebat. Semestinya Anda pertimbangkan, apa iya sebuah hubungan cinta dikorbankan jadi berantakan hanya gara-gara persoalan itu? Bila Anda memikirkan hal ini, berarti Anda siap memberikan kado “kesediaan mengalah” Okelah, Anda mungkin kesal atau marah karena dia telat datang memenuhi janji. Tapi kalau kejadiannya baru sekali itu, kenapa mesti jadi pemicu pertengkaran yang berlarut-larut ? Kesediaan untuk mengalah juga dapat melunturkan sakit hati dan mengajak kita menyadari bahwa tidak ada manusia yang sempurna didunia ini
8. SENYUMAN

Percaya atau tidak, kekuatan senyuman amat luar biasa. Senyuman, terlebih yang diberikan dengan tulus, bisa menjadi pencair hubungan yang beku, pemberi semangat dalam keputus asaan. pencerah suasana muram, bahkan obat penenang jiwa yang resah. Senyuman juga merupakan isyarat untuk membuka diri dengan dunia sekeliling kita. Kapan terakhir kali anda menghadiahkan senyuman manis pada orang yang dikasihi ?

Juni 6, 2009 Ditulis oleh lukman hakim | Anak, keluarga, syareah, wanita | , , , , , | Belum Ada Tanggapan

MENCINTAI

Sangatlah menyakitkan mencintai seseorang, tetapi tidak dicintai olehnya.Tetapi lebih indah untuk mencintai dan tidak pernah menemukan keberanian untuk memberitahu mereka apa yang kamu rasakan. Mungkin Tuhan menginginkan kita untuk bertemu dengan orang yang tidak tepat sebelumnya. Jadi ketika kita akhirnya bertemu dengan orang yang tepat, kita akan tahu betapa berharganya anugerah tersebut.
Cinta adalah ketika kamu membawa perasaan, kesabaran dan romantis dalam suatu hubungan dan menemukan bahwa kamu peduli dengan dia. Hal yang menyedihkan dalam hidup adalah ketika kamu bertemu seseorang yang sangat berarti bagimu.Hanya untuk menemukan bahwa pada akhirnya menjadi tidak berarti dan kamu harus membiarkannya pergi.
Ketika pintu kebahagiaan tertutup, yang lain terbuka.Tetapi kadang-kadang kita menatap terlalu lama pada pintu yang telah tertutup itu sehingga kita tidak melihat pintu lain yang telah terbuka untuk kita.
Teman yang terbaik adalah teman dimana kamu dapat duduk bersamanya dan merasa terbuai, dan tidak pernah mengatakan apa-apa, dan kemudian berjalan bersama. Perasaan seperti itu adalah percakapan termanis yang pernah kamu rasakan. Benarlah bahwa kita tidak tahu apa yang kita dapatkan sampai kita kehilangan itu ??Tetapi benar juga bahwa kita tidak tahu apa yang hilang sampai itu ada.
Memberikan seseorang semua cintamu tidak pernah menjamin bahwa mereka akan mencintai kamu juga !!! Jangan mengharapkan cinta sebagai balasan, tunggulah sampai itu tumbuh didalam hati mereka.Tetapi jika tidak, pastikan dia tumbuh didalam hatimu.
Ada hal yang sangat ingin kamu dengar tetapi tidak akan pernah kamu dengar dari orang yang dari mereka kamu ingin dengar. Tetapi jangan sampai kamu menjadi tuli walaupun kamu tidak mendengar itu dari seseorang yang mengatakan itu dari hatinya.
Jangan pernah berkata selamat tinggal jika kamu masih ingin mencoba. Jangan menyerah selama kamu merasa masih dapat maju. Jangan pernah berkata kamu tidak mencintai orang itu lagi bila kamu tidak bisa membiarkannya pergi.Cinta datang kepada orang yang masih mempunyai harapan walaupun mereka telah dikecewakan. Kepada mereka yang masih percaya, walaupun mereka telah dikhianati. Kepada mereka yang masih ingin mencintai, walaupun mereka telah disakiti sebelumnya. Kepada mereka yang mempunyai keberanian dan keyakinan untuk membangun kembali kepercayaan.
Hanya perlu satu menit untuk menghancurkan seseorang, satu jam untuk menyukai seseorang, satu hari untuk mencintai seseorang, tetapi membutuhkan seumur hidup untuk melupakan seseorang.
Jangan melihat dari wajah, itu bisa menipu. Jangan melihat kekayaan, itu bisa menghilang. Datanglah kepada seseorang yang dapat membuatmu tersenyum karena sebuah senyuman dapat membuat hari yang gelap menjadi cerah. Berharaplah kamu dapat menemukan seseorang yang dapat membuatmu tersenyum.
Ada saat di dalam kehidupanmu dimana kamu sangat merindukan seseorang, kamu ingin mengambil mereka dari mimpimu dan benar-benar memeluk dia. Berharaplah bahwa kamu dapat bermimpi tentang dia, yang berarti mimpilah apa yang ingin kamu mimpikan, pergilah kemana kamu ingin pergi, jadilah sesuai dengan keinginan kamu, karena kamu hanya hidup sekali dan satu kesempatan untuk melakukan apa yang kamu inginkan. Semoga kamu mendapat cukup kebahagiaan untuk membuat kamu bahagia, cukup cobaan untuk membuat kamu kuat, cukup penderitaan untuk membuat kamu menjadi manusia yang sesungguhnya, dan cukup harapan untuk membuat kamu bahagia.
Selalu letakkan dirimu pada posisi orang lain. Jika kamu merasa bahwa itu menyakitkan kamu, mungkin itu menyakitkan orang itu juga.
Kata-kata yang ceroboh dapat mengakibatkan perselisihan, kata-kata yang kasar bisa membuat celaka, kata-kata yang tepat waktu dapat mengurangi ketegangan, kata-kata cinta dapat menyembuhkan dan menyenangkan.

Permulaan cinta adalah dengan membiarkan orang yang kita cintai menjadi dirinya sendiri dan tidak membentuk mereka menjadi sesuai keinginan kita. Dengan kata lain kita mencintai bayangan kita yang ada pada diri mereka.
Orang yang bahagia tidak perlu memiliki yang terbaik dari segala hal. Mereka hanya membuat menjadi baik segala hal yang datang dalam hidup mereka. Kebahagiaan adalah bohong bagi mereka yang menangis, mereka yang terluka, mereka yang mencari, mereka yang mencoba. Mereka hanya bisa menghargai orang-orang yang penting yang telah menyentuh hidup mereka.
Cinta mulai dengan senyuman, tumbuh dengan ciuman, dan berakhir dengan air mata. Masa depan yang cerah berdasarkan pada masa lalu yang telah dilupakan. Kamu tidak dapat melangkah dengan baik dalam kehidupan kamu sampai kamu melupakan kegagalan kamu dan rasa sakit hati.
Ketika kamu lahir, kamu menangis dan semua orang di sekeliling kamu tersenyum. Hiduplah dengan hidupmu, jadi ketika kamu meninggal, kamu satu-satunya yang tersenyum dan semua orang di sekeliling kamu menangis.

Juni 6, 2009 Ditulis oleh lukman hakim | 17116224, Anak, cinta, syareah, wanita | , , , , , | Belum Ada Tanggapan