Violetcampus’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

Yang tetap dan yang bisa berubah

Seorang syeikh mengingatkan muridnya bahwa dakwah harus terus berlangsung dan tidak boleh berhenti sedikit pun meski wadahnya sebagai media aspirasi perjuangannya dibubarkan pemerintah setempat. “Sekalipun wadah kita bubar, aktivitas dakwah kita tidak boleh bubar dan tidak bisa dibubarkan”, demikian penegasan syeikh tersebut.

Kalimat itu menghentakkan kesadaran muridnya akan kewajiban mereka untuk senantiasa berdakwah dengan berbagai kondisi dan keadaan. Bukan malah bingung untuk melakukan sesuatu lantaran wadahnya sudah dibubarkan. Karena hakikat asasiyat bagi aktivis adalah berdakwah untuk memberikan kontribusi amal shalih dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Ayyuhal ikhwah rahimakumullah.

Suatu keadaan pahit sering kali membuat orang sock dan berat menerimanya. Meski pun kenyataan berat seperti itu sangat manusiawi. Akan tetapi sebagai aktivis dakwah selayaknya tidak berada pada titik keadaan tersebut. Namun hendaknya menyikapi situasi tersebut dengan berpegang pada dhawabith (patokan-patokan) yang jelas dalam amal dakwah ini. Sehingga tidak kehilangan keseimbangan ketika berada di dalamnya. Melalui patokan itu kita dapat melangkahkan kaki bersama dakwah dengan gegap tanpa ragu dan bingung.

Dhawabit ini akan memandu ke arah mana jalan yang harus ditempuh dan menjadi rambu yang akan memberitahu apa yang mesti dilakukannya.

Dakwah aktivitas yang harus langgeng

Ayyuhal ikhwah rahimakumullah.

Keterikatan aktivis terhadap dakwah tidak boleh mengalami penurunan dalam situasi yang terjepit sekalipun. Akan tetapi peningkatan dan pengokohanlah yang mesti dilakukan mereka. Bersama dakwah prinsip hidup mukmin terus terjaga, komitmen kepada Islam semakin kuat. Sebaliknya tanpa bersama dakwah jurang menganga selalu di hadapan dan bahaya senantiasa mengancam. Bahkan yang perlu kita camkan adalah tanpa kesertaan dakwah eksistensi kita dalam barisan itu akan tergantikan oleh mereka yang lebih baik kesertaannya daripada diri kita. Dalam keadaan bahaya sekalipun keterlibatan diri terhadap dakwah harus langgeng apalagi dalam keadaan tenang. Rasulullah SAW. Mengatakan bahwa Islam adalah roda yang berputar maka berputarlah bersama Islam bagaimanapun putarannya. Ucapan beliau ini menegaskan bahwa aktivis dakwah harus selalu menyertainya dalam setiap keadaan karena kesertaan yang lemah menjadi sebab untuk diganti dengan orang lain yang lebih baik.

“………jika kamu berpaling niscaya Dia akan mengganti kamu dengan kaum yang lain dan mereka tidak seperti (kualitas) kamu ini”. (QS. Muhammad: 38)

Tarbiyah mesti tetap berjalan

Ayyuhal ikhwah rahimakumullah.

Tarbiyah sebagai sarana pembentukan diri bagi aktivis tidak boleh kendur dan macet dalam kondisi apapun. Dan mereka yang berada dalam barisan dakwah mentarbiyah diri menjadi aktivitas yang mesti berjalan tidak mandeg dan berhenti sejenakpun. Karena tarbiyah merupakan titik tolak bagi aktivis dalam membina diri menuju kepribadian muslim shalih mushlih. Apalagi iklim yang terjadi di sekitarnya sangat berperan menjadi penghalang untuk mencapai cita-cita mulia tersebut. Tikungan-tikungan tajam yang berbahaya berada di kiri dan kanan jalan yang akan menjerumuskannya ke dalam jurang terjal. Maka tarbiyah sebagai jawaban untuk membina diri bagi aktivis dalam menghadapi keadaan tersebut harus tetap berjalan.

Kemandegan tarbiyah dapat berpengaruh pada ketahanan mental dan ma’nawiyah aktivis yang melemah. Kelemahan ini terkadang menjadi sebab dari berbagai problematika aktivis baik skala personal maupun sosial. Oleh sebab itu tarbiyah dalam situasi apapun harus terus berjalan. Bila ia mendapatkan rintangan dari kiri ia harus memutar haluan dengan cepat ke kanan. Begitu juga bila ada gangguan dari sebelah kanan ia pun harus menyikapinya dengan cepat berbelok ke kiri. Artinya meskipun banyak yang menghalangi, tarbiyah harus terus bergulir dari berbagai arah sehingga ia selalu mengalir dengan lancar.

Berjamaah suatu keharusan

Ayyuhal ikhwah rahimakumullah.

Banyak kita temukan keterangan dalam Al Qur’an dan Hadits yang menjelaskan bahwa berjamaah merupakan suatu keharusan untuk setiap muslim. Dengan berjamaah kita dapat keberkahan yang melimpah. Yang lemah akan kuat, yang kurang akan mendapatkan tambahan, yang menyimpang akan terluruskan dan kebaikan lainnya. Karena itu berjamaah menjadi kebutuhan yang asasi bagi aktivis. Ia akan mampu menghadapi segala keadaan dengan berjamaah. Keberadaannya dalam jamaah ini tentu bukan sekadar hadir di dalamnya melainkan ia aktif dan terlibat penuh dengan berbagai aktivitasnya. Dengan sikap begitu ia akan merasakan keberadaan jamaah pada dirinya.

Allah SWT. memandang orang mukmin selalu berjamaah sebagaimana shighat dalam nash qur’an. Hal ini sekaligus untuk menyuruh orang-orang mukmin dalam keadaan berjamaah. Orang yang infiradi berpeluang mendapatkan mara bahaya. Apalagi dalam situasi yang terjepit dan sulit. Bukankah Rasulullah SAW. telah bersabda agar kita terikat pada jamaah meskipun harus menggenggam bara api.

Peran Qiyadah dan Jundiyah

Ayyuhal ikhwah rahimakumullah.

Peran Qiyadah dalam hal ini adalah menetapkan suatu kebijakan yang akan menjadi arahan dan patokan yang jelas bagi prajuritnya.  Kebijakan tersebut untuk dilaksanakan oleh bawahannya secara cepat dan tepat. Dalam situasi yang pelik seorang pemimpin tidak boleh lambat dalam mengambil suatu keputusan. Keputusan yang lambat dapat membawa kekeliruan dalam menyikapinya. Keliru dalam menyikapi suatu keadaan akan berakibat fatal bagi perjalanan dakwah. Namun keputusan yang cepat tidak berarti asal ditetapkan sebagai sebuah keputusan melainkan berasal dari pemikiran dan perhitungan yang tajam akan keputusan tersebut.

Di samping itu, peran qiyadah adalah untuk memberikan arahan dan taujihat yang sangat dibutuhkan prajuritnya. Taujihat yang tepat dan mengena dari qiyadah menjadi cucuran air hujan di musim kemarau. Prajurit yang aktif memerlukan arahan apalagi setelah letih melakukan operasional kerja besar.

“Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mukmin itu pergi semuanya ke medan perang. Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya supaya mereka itu dapat menjaga diri”. (QS At Taubah: 122)

Sedangkan peran jundiyah maksudnya ialah bersikap sigap dan patuh dalam menjalani tugas dan kewajibannya. Sikap yang selalu melekat pada setiap prajurit. Bukan sikap ngambek, mutung, apalagi patah semangat dalam menjalani tugas dan kewajibannya. Prajurit yang baik adalah mereka yang selalu berusaha maksimal dalam menjalani tugasnya. Ditugaskan di barisan terdepan ia akan berada pada posisinya. Ditempatkan di bagian belakang ia selalu menunaikannya. Diperintahkan ia laksanakan dengan segera. Sebaliknya prajurit yang diam terpaku dan termenung menghadapi tugasnya akan memperlambat kerja dan tugasnya. Bahkan akan berakibat buruk bagi keseluruhannya.

Nama, bentuk, mekanisme dan prosedural administrasi mengalami perubahan sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada.

Dalam  perjalanan dakwah dan harakah ada hal-hal yang dapat berubah. Perubahan ini dapat terjadi karena situasi dan kondisi yang berkembang di sekitarnya. Perubahan tersebut asal tidak merubah prinsip dan arah harakah dakwah ini melainkan sebagai upaya untuk tetap melanggengkan perjalanannya. Perubahan itu dapat meliputi perubahan nama, bentuk, mekanisme dan prosedural. Perubahan nama merupakan sesuatu yang biasa dalam dinamika dakwah dan pergerakannya. Perubahan nama dapat terjadi beberapa kali. Hal ini terjadi karena faktor yang tidak dapat memunculkan nama  lamanya sehingga perlu menampilkan diri dengan nama barunya. Perubahan bentuk juga mungkin dapat terjadi hingga beberapa kali untuk dapat diterima masyarakat luas sehingga perjalanannya tetap berkesinambungan. Semua perubahan itu sangat mungkin dapat terjadi, karenanya aktivis dakwah tidak boleh mengalami sock yang berkepanjangan lantaran hal itu. Perubahan-perubahan itu adalah bahagian dari dinamika perjalanan sunnah dakwah dari masa ke masa.

(tolong ya bu Sita, bolehkan?. cantumkan QS. Ali Imran: 144 di akhir tulisan ini)

3:144. Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barang siapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudarat kepada Allah sedikit pun; dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.

Mei 27, 2009 Ditulis oleh lukman hakim | Anak, cinta, ilmu pengetahuan, keluarga, syareah | , , | No Comments Yet

MAKAN NASI BUKAN KEHARUSAN, KOK

Karena bisa digantikan dengan makanan sejenis. Tapi, tetap saja perlu dicari penyebabnya bila si kecil ogah makan nasi.

Cukup sering, kan, para ibu mengeluhkan anaknya yang tak mau makan nasi. Misalnya, ia hanya mau makan mi atau bubur instan. Seperti yang dialami Ny. Anis Supriyatini dari Jakarta Selatan. “Putra saya sebenarnya tak sulit makan, cuma dia tak mau makan nasi ataupun nasi tim. Dia hanya suka bubur instan yang diperuntukkan anak usia setahun. Padahal umurnya hampir 2 tahun. Pernah saya buatkan nasi tim, lalu saya suapi, tapi ia malah menyemprotkan makanan itu sambil menangis. Begitu pula saat disuapi nasi pakai sup wortel, ia tak mau makan. Memang sampai saat ini ia sehat, lincah, dan cerdas. Adakah dampaknya bila ia begini terus?” Begitu ia menuturkan ceritanya lewat surat pada nakita.

Nah, bila ibu di rumah mengalami hal sama, yuk kita simak penjelasan Dr.dr.Damayanti R.Sjarif, SpA, dokter spesialis anak dari Subbagian Gizi dan Metabolik-Bagian Ilmu Kesehatan Anak, FKUI- RSUPN Dr Cipto Mangunkusumo, Jakarta.

PENYEBAB TAK MAU MAKAN NASI

Sebetulnya ada dua hal utama yang menjadi penyebab anak tak mau makan nasi. Pertama, karena pengaruh proses makannya. Begini, Bu-Pak, dalam pemberian makanan pada anak sebetulnya harus dilakukan secara bertahap. Semisal, usia bayi sampai empat bulan diberi ASI eksklusif. Lalu usia 4-6 bulan sudah mulai dikenalkan dengan makanan tepung-tepungan seperti bubur susu. Mulai usia 6 bulan dikenalkan dengan makanan yang lebih keras, semisal dalam bentuk nasi tim halus campur atau disaring. Pada usia 9 bulan mulai dengan makanan yang agak kasar tapi belum sampai seperti nasi; bisa nasi lembek atau nasi tim dan makanannya pun sudah bisa dipisah-pisah baik sayuran maupun lauknya. “Setelah usia di atas setahun sudah bisa mengkonsumsi makanan keluarga, tapi tetap lunak dan rasanya pun tidak pedas atau merangsang.”

Nah, bila anak tak melewati fase pemberian makanan seperti itu menyebabkan anak tak terlatih makan. Sementara orang tua pun membiarkannya saja. Padahal makan itu sendiri merupakan suatu keterampilan. “Anak dilatih untuk mengunyah, menggerakkan lidahnya sampai menelan.” Jika anak tidak dilatih seperti itu, maka dia hanya langsung menelan makanannya. Tak heran, bila kemudian ada anak yang menolak makanan padat seperti nasi. Ia lebih suka yang instan, semisal bubur instan atau bahkan susu saja.

Kedua, karena memang pada dasarnya ia tak suka nasi. Bisa saja ini tanpa alasan yang jelas; memang benar-benar tak doyan atau ia bosan makan nasi. Toh, ketika dicoba makanan pengganti seperti mi, roti, atau kentang, ia mau-mau saja. Nah, tandas Damayanti, untuk mengatasi hal ini orang tua dituntut lebih kreatif dalam menyajikan makanan untuk buah hatinya. Coba, deh, introspeksi siapa tahu ibu memang hanya menyajikan makanan dengan lauk yang itu-itu saja dan rasanya pun itu-itu terus. Padahal anak seusia ini -yang sudah mengenal makanan padat – tentu sudah bisa memilih dan menentukan makanan yang disukainya. Tapi karena dia belum bisa menjelaskan apa yang diinginkannya, akhirnya ia cuma bisa menolak atau berkesan tak suka makan nasi. “Atau ia tampak sulit makannya.”

CARA MENYISIATI

Langkah terbaik bila anak tak mau makan nasi segera cari penyebabnya. Bila sudah ketahuan, saran Damayanti, segeralah disiasati. “Jangan karena anak tak mau makan nasi lalu distop tak diberi apa-apa.” Sebaliknya, jangan pula lantas dipaksa sampai harus dijejali nasi. Hal ini malah membuat anak jadi trauma.

Sebaiknya orang tua jangan sampai kehabisan akal. Misalnya, bila anak tak mau nasi, coba buat bentuk nasi tersebut menjadi lontong, bacang atau nasi uduk. Bisa juga nasinya dibentuk dengan cetakan mangkok dan dibuat seperti bentuk kepala orang atau bentuk lainnya. Jadi, baik rasa maupun bentuknya divariasikan. Siapa tahu selama ini anak tak mau makan nasi karena memang bosan. Jadi, buatlah sedemikian rupa agar membuat anak tertarik untuk mau makan nasi. Jadi perlu bagi orang tua untuk mengubah ketidaksukaan anak pada nasi agar jadi suka.

Bila upaya tersebut tak membuahkan hasil, siapa tahu memang anak tak doyan nasi. Jadi, cobalah dengan cara lain. Carilah makanan sumber karbohidrat lain sebagai penggantinya yang disukai anak. “Kan sumber karbohidrat itu masih banyak, tak hanya nasi saja,” terang Damayanti. “Nah, setelah mengetahui itu buatlah dengan berbagai variasi olahannya,” saran Damayanti.

Mengenai berlanjut tidaknya anak tak mau makan nasi sampai usia dewasa, menurut Damayanti, sangat tergantung pada anak itu sendiri. Kalau anak tak mau makan nasi karena sifatnya temporer atau merasa bosan, hanya pada satu saat saja, ya bisa saja suatu saat nanti berubah. Mungkin kalau bosannya hilang, ia pun akan kembali makan nasi. Misalnya, dia lihat orang makan nasi dalam bentuk nasi uduk atau lontong, mungkin ia tertarik untuk ikut makan. Jadi tak doyan nasi ini bisa saja tak berlanjut sampai dewasa.

Tapi, ada juga, lo, anak yang memang dasarnya tak suka makan nasi. Biar sudah diolah rasa dan bentuknya sedemikian rupa, dia tetap tak mau makan nasi. Nah, ini bisa saja akan terus berlanjut sampai dewasa atau bahkan seumur hidup. Kalau sudah begini tak usah terlalu dipermasalahkan lagi, Bu-Pak.

KANDUNGAN KARBOHIDRAT

Jadi, sebetulnya perilaku anak yang tak mau makan nasi ini wajar saja, kok. Lagipula tak perlu terlalu dirisaukan. Boleh saja anak tak mau makan nasi, asalkan ada makanan pengganti sebagai sumber karbohidratnya. Cuma, kata Damayanti, pada umumnya orang Indonesia, merasa belum makan kalau belum makan nasi. Padahal anak di negara barat juga makanan pokoknya roti atau kentang saja, bukan nasi. Begitupun anak di pelbagai tempat yang makan pokoknya mi, jagung, sagu, dll.

Nah, menurut Damayanti, bagi anak yang tak mau makan nasi tidak ada dampak yang terlalu berarti. Asalkan itu tadi, tambahnya, “Tetap makan makanan pengganti sumber karbohidrat yang lain, semisal, kentang, roti, mi, makaroni, dan lain-lain. Selama sumber karbohidratnya diganti maka tak ada masalah bila anak tak mau makan nasi.”

Lantas berapa, sih, kebutuhan karbohidrat seorang anak? Ternyata sangat ditentukan berat badannya. Komposisinya pada makanan anak Indonesia biasanya terdiri dari: 15-25 persen adalah protein, 20-25 persen lemak dan 50-60 persen karbohidrat. Contoh, bila seorang anak usia setahun dengan berat badan katakanlah 10 kilogram dan dia harus makan kira-kira 1000 kalori per hari maka sekitar 50 persennya adalah karbohidrat.

Yang jelas kebutuhan gizi itu harus seimbang, beragam, dan bervariasi. Artinya seluruh kandungan gizi harus tercukupi. Jadi, sangat tidak benar jika anak hanya mau makan bubur saja, atau juga susu saja. Seperti kasus putri Ny. Anis yang hanya mau makan bubur instan saja. Meski makanan yang encer-encer itu tak berdampak pada pencernaannya, tapi cukup berpengaruh pada pola makannya. “Jadi, makanan yang dikonsumsi anak Ibu Anis itu mungkin saja dapat memenuhi seluruh kalori yang dibutuhkan, tetapi kelengkapan zat gizi lainnya yang dibutuhkan anak seperti protein, lemak, vitamin dan mineralnya tak bisa lagi terpenuhi. Jadi, sebaiknya cepat segera diperbaiki,” anjur Damayanti.

Memang di Indonesia sangat jarang terjadi kasus anak kekurangan karbohidrat, kecuali jika memang asupan makanan secara keseluruhan tidak memadai. Karena sebagian besar makanan Indonesia justru banyak mengandung karbohidrat. Yang terbanyak justru kekurangan protein. Kalaupun terjadi kekurangan karbohidrat biasanya tidak hanya satu zat ini saja, tapi berkaitan dengan kekurangan protein dan lemak yang disebut kekurangan kalori-protein “Bila hal ini terjadi, maka anak disebut malnutrisi atau kekurangan zat gizi.” Bila anak sampai kekurangan gizi maka akan tampak sebagai anak kurus, lemas atau tidak lincah, pertumbuhannya terhambat, kulitnya kering, dan berbagai penyakit lain mudah muncul.

Dedeh Kurniasih . Foto : Iman (nakita)

BILA ANAK DIPAKSA MAKAN NASI Bentuk pemaksaan seringkali malah berdampak buruk. Begitu pula bila kita memaksakan anak untuk makan nasi. Salah-salah anak malah jadi trauma. Baginya makan merupakan suatu penyiksaan. Misalnya, begitu sang ibu sudah membawa sendok, anak sudah ribut setengah mati atau menangis. Belum apa-apa dia sudah tak mau makan. Karena dia tahu akan dipaksa makan. Baginya makan bukanlah suatu pengalaman yang menyenangkan.  Nah, tandas Damayanti, untuk menjadikan kegiatan makan sebagai hal yang menyenangkan bagi anak perlu diciptakan suasana yang mendukungnya. Misal, anak makan bersama dengan anggota keluarga seperti ayah, ibu dan kakak-kakaknya. Anak usia balita sebetulnya sudah bisa duduk dan dicoba belajar makan sendiri meski belum rapi dan masih berantakan. Tak heran, kan, bila di taman bermain atau bahkan di posyandu ada acara makan bersama yang sengaja dibuat agar menyenangkan anak. Dia bisa makan sambil bermain dengan teman sebayanya. Melihat temannya makan membuat sang anak pun ingin seperti itu.  Karena itu, saran Damayanti, cobalah ciptakan suasana makan yang menyenangkan di rumah. Bisa dicoba dengan menyuapi anak sambil bermain atau menonton televisi. Tentu saja kegiatan makan ini sebaiknya dilakukan di dalam rumah. Sebab jika di luar rumah, siapa jamin debu yang banyak bertebaran menempel di atas makanan anak kita. Malah jadi bahaya, kan?  Dedeh

MAKAN BENDA-BENDA SELAIN NASI Yang perlu dikhawatirkan adalah bila anak gemar makan sesuatu yang bukan makanan, semisal benang, beling, tanah dan benda-benda lainnya. Hal ini merupakan semacam gangguan psikologis yang disebut pica.  Tapi, “makanan” tersebut bukan menjadi makanan utama si anak pica. Karena, terang Damayanti, anak pica ini sama seperti anak normal lainnya makan makanan umum, seperti nasi dan lauk pauknya.  Kelainan ini umumnya baru diketahui saat anak berusia 2-3 tahun. “Berlanjut tidaknya kebiasaan ini tak diketahui pasti,” terang Damayanti. Tapi jelas kelainan ini mengganggu perkembangan si anak.” Apalagi, mengingat benda-benda yang dimakannya ini kotor atau mungkin berbahaya bagi pencernaan. Bukan tak mungkin, dari segi kesehatan, anak akan jadi mudah terinfeksi.  Bila mengalami hal demikian, jangan tunda untuk segera mengkonsultasikannya dengan dokter anak dan psikiater.  Dedeh

GOLONGAN BAHAN MAKANAN SUMBER HIDRAT ARANG

Satu satuan penukar mengandung: 175 kalori, 4 gram protein, 40 gram hidrat arang.

Bahan Makanan Berat (gram) Ukuran Rumah Tangga (Urt)

Nasi jagung    100     3/4 gelas

Kentang        200     2 buah (sedang)

Singkong       100     1 potong (sedang)

Talasi  200     1 buah besar

Ubi      150     1 buah besar

Biskuit meja   50      5 buah

Roti putih       80      4 iris

Krakers         50      5 buah besar

Maizena         40      8 sendok makan

Tepung singkong       40      8 sendok makan

Tepung sagu  40      7 sendok makan

Tepung terigu 50      10 sendok makan

Tepung hunkwee      40      8 sendok makan

Mi kering       50      1 gelas

Mi basah        100     1 gelas

Makaroni       50      1/2 gelas

Bihun  50      1/2 gelas

Mei 25, 2009 Ditulis oleh lukman hakim | Anak, cinta, ilmu pengetahuan, keluarga, syareah, wanita | , , , , , | No Comments Yet

Menyambut Si Kecil

DEPRESI KALA HAMIL, BISA MENURUN KE ANAK, LO! Kelak si kecil sulit konsentrasi, mengalami gangguan belajar, dan jadi hiperaktif. Bahkan, saat di kandungan pun bisa mengalami pertumbuhan janin terhambat. Buat sebagian wanita, kehamilan bukan sesuatu yang mudah. Bisa saja si calon ibu melewati 9 bulan kehamilan dengan perasaan tertekan, stres atau depresi. Dengan demikian, kehamilan pun dirasakan makin berat.  Hal ini bisa dipahami, karena kehamilan merupakan perubahan besar, baik fisik maupun mental. Misal, tubuh yang semula langsing, kini kelihatan gemuk; kulit yang tadinya mulus, sekarang jadi tampak hitam dan bergaris-garis; badan terasa pegal-pegal; payudara tersenggol sedikit saja terasa sakit, dan sebagainya. “Nah, keadaan ini bisa mempengaruhi mental si calon ibu hingga ia mengalami depresi,” kata dr. Hj. Hasnah Siregar, SpOG. Belum lagi perubahan hormon yang berlangsung selama kehamilan juga berperan dalam perubahan emosi si calon ibu. “Membuat perasaannya tak menentu, konsentrasi berkurang, serta pusing-pusing. Suasana ini tentu saja terasa tak nyaman dan kalau tak bisa diatasi akan muncul depresi,” lanjut dokter dari Bagian Kebidanan/Penyakit Kandungan RSAB Harapan Kita, Jakarta.  KETAKUTAN BERLEBIHAN  “Munculnya depresi juga sangat dipengaruhi latar belakang kepribadian si calon ibu,” tambah psikiater dr. L. Suryantha Chandra yang dijumpai pada kesempatan terpisah. Jika ia berkepribadian immature (kurang matang), introvert (tak mau berbagi dengan orang lain), atau tak seimbang antara perilaku dan perasaannya, seperti menjalani perkawinan yang dipaksakan, akan membuat jiwanya rapuh dalam menghadapi berbagai masalah selama kehamilannya. Akibatnya, ia akan mudah depresi.  Matang-tidaknya seseorang, lanjut Direktur Utama Sanatorium Dharmawangsa, Jakarta ini, tak tergantung usia tapi lebih pada pola asuh orang tuanya. “Bila orang tua selalu memanjakan berlebihan, secara tak sadar telah memupuk ketidakdewasaan pada anaknya. Biasanya anak yang demikian takkan bisa menerima perubahan yang terjadi pada kehamilannya sebagai sesuatu yang alami. Kalau ia tak bisa menanggulanginya, maka stresnya jadi tinggi.”  Bukan itu saja, “ibu hamil yang kerap dilanda ketakutan-ketakutan tertentu dalam menghadapi kehamilannya: takut ada apa-apa selama persalinannya kelak, ada apa-apa dengan janinnya, takut suaminya tak mencintainya lagi dengan keadaan tubuhnya sekarang, dan takut-takut lainnya, akan membuatnya stres,” tambah Hasnah. Terlebih jika dirinya juga ada masalah dalam kehamilannya, misal, menderita darah tinggi, diabetes, atau anemia, atau bila keluarganya ada yang menderita cacat bawaan, “akan semakin membuatnya stres. Ia takut akan dampaknya bagi janinnya.”  Depresi akibat ketakutan/kecemasan yang berlebihan ini bisa menimpa siapa saja, baik pada calon ibu muda yang baru pertama kali hamil maupun ibu-ibu yang sudah berkali-kali melahirkan. “Pada wanita usia muda, biasanya ketakutannya berkisar soal keadaan kesehatan janinnya dan proses persalinan yang harus dihadapinya kelak. Terlebih jika sebelumnya ia mendengar cerita-cerita seram mengenai proses persalinan. Sementara pada usia tua, ketakutannya lebih karena faktor usia. Ia takut terjadi apa-apa pada kehamilannya karena usianya tak muda lagi itu, ‘Kalau ada apa-apa dengan saya, siapa nanti yang akan mengurus anak-anak.’ Akhirnya ia jadi melankolik dan tertekan jiwanya.”  Faktor lain yang juga turut andil membuat calon ibu mengalami depresi ialah perkawinan bermasalah dan kelahiran anak yang tak diinginkan.  DUKUNGAN DARI KELUARGA  Biasanya, depresi muncul di usia kehamilan trimester II, saat tubuh tengah mengalami perubahan besar, baik fisik yang membesar maupun hormon yang meningkat. “Pada saat-saat seperti inilah ada kecenderungan ibu hamil jadi egois. Ia ingin selalu jadi pusat perhatian. Pokoknya, kala hamil, dorongan ingin diperhatikan itu kuat sekali, ” terang Hasnah. Namun bila kepribadian ibu cukup matang, menurut Chandra, depresi bisa cepat diatasi, “karena ia akan gampang diberi pengertian. Hingga, kala kehamilan trimester II dan III, sudah bisa beradaptasi dan lebih tenang.”  Yang jadi masalah, jika depresi tak bisa diatasi karena akan berlanjut hingga pasca persalinan, disebut post partum psychosis. “Mereka yang mengalaminya, selama hamil tak menunjukkan gejala apa-apa, hanya kelihatan murung. Namun setelah melahirkan, ia jadi meledak yang tarafnya sudah psychotik; gejalanya seperti sakit jiwa, marah-marah dan bicara sendiri. Ia juga mengalami halusinasi yang mengatakan dirinya sudah jelek hingga suaminya bisa meninggalkannya. Ini sudah tergolong depresi akut atau parah,” terang Chandra.  Itulah mengapa, depresi harus diatasi agar jangan sampai berlanjut jadi parah. Apalagi kehadiran depresi tak bisa dicegah. Peranan keluarga, menurut Hasnah dan Chandra, amat penting untuk mencegah keparahan. Misal, suami men-support istri yang keadaannya lagi tak menentu. Bahkan, dukungan mertua pun sangat dibutuhkan. Pendeknya, seluruh keluarga besar turut men-support ibu hamil. Makanya, kini ada program Piaga, yaitu perawatan ibu hamil yang melibatkan keluarga. Tak heran bila sekarang seluruh anggota keluarga -baik suami, orang tua dan mertua- dibolehkan berada di ruang bersalin. Tujuannya, agar ibu yang akan melahirkan merasa seperti berada di rumah sendiri dengan dikelilingi orang yang disayangi dan menyayanginya.  Selain keluarga, support dari dokter tak kalah pentingnya, lo. “Dokter harus bisa menyakinkan calon ibu bahwa kehamilan adalah proses alamiah. Jadi, ada semacam garansi bahwa dokter akan membantu hingga ia tak perlu cemas atau takut. Nyeri dalam persalinan yang kerap ditakuti, kan, bisa diatasi sehingga tak perlu takut. Toh, dokter akan selalu menuntunnya dalam persalinan,” tutur Hasnah. Bahkan, cukup banyak ibu hamil yang jadi lebih tenang ketika didampingi dokter dan mengaku nyerinya pun hilang.  Sementara untuk mengurangi kecemasan dan ketakutan, saran Hasnah, sebaiknya ibu hamil dan suaminya ikut pendidikan parent education. “Alangkah baiknya jika diikuti sejak kehamilan trimester I, hingga bila belum berpengalaman, mereka akan mendapat banyak pengetahuan; dari perubahan-perubahan yang terjadi sampai apa yang harus dilakukan suami pada istrinya.” Diharapkan lewat bimbingan ini para calon ibu lebih bisa menerima perubahan dalam kehamilannya, hingga mereka bisa cepat beradaptasi pada perubahan-perubahan tersebut dan ketakutannya pun berkurang. Soalnya, yang membuat stres itu adalah ketidaktahuannya. Namun setelah tahu bagaimana mengatasi setiap perubahan yang ada, mereka jadi lebih tenang hingga depresinya juga berkurang.  HINDARI OBAT-OBATAN ANTI DEPRESAN  Akan halnya obat-obatan antidepresan, takkan sembarangan diberikan. “Sebelum kehamilan berumur 4 bulan, obat-obatan ini tak akan diberikan,” tegas Hasnah. Jadi, setelah kehamilannya kuat baru diberikan. Soalnya, obat antidepresan ini bisa berpengaruh pada liver janin. Itu sebab, pemberian obat-obatan merupakan langkah terakhir. “Selama masih bisa diatasi tanpa obat, lebih baik diberikan support sosial.”  Selain itu, ada beberapa teknik relaksasi untuk mengendurkan ketegangan yang bisa dipelajari ibu hamil. Salah satunya yang termudah seperti dianjurkan Chandra, tidur-tiduran di alas yang agak keras atau duduk bersandar di kursi dengan rileks, lalu pejamkan mata dan kendurkan otak serta otot-otot tubuh dari muka hingga kaki. “Dengan mengendurkan otak, biasanya bisa sampai ketiduran. Sesudah itu, akan terasa segar dan tak tegang. Bukankah orang depresi itu biasanya merasa tegang, pikirannya lambat, dan tak bisa konsentrasi. Nah, dengan relaksasi, maka bisa kendor semua.”  Bisa juga dengan cara lain, yaitu tarik nafas panjang, cari suasana beda, atau berbagi cerita dengan orang lain, mendengarkan musik, serta berolahraga. “Kalau tetap tak bisa diatasi, bahkan sampai tak bisa tidur bermalam-malam, ya, segera hubungi psikiater untuk mendapat pertolongan lebih lanjut,” bilang Chandra. Yang pasti, pesannya, jangan minum alkohol selama depresi karena akan makin memperparah keadaan.  DAMPAK PADA ANAK  Penting diketahui, depresi pada ibu hamil akan berdampak pada proses persalinan dan janin. “Menurut penelitian, ibu hamil yang selalu gelisah, cemas, dan takut, maka anaknya kelak akan mengalami kesulitan belajar, tak bisa konsentrasi, sering ketakutan, bahkan tak jarang hiperaktif,” tutur Hasnah.  Soalnya, terang Chandra menambahkan, bila ibu hamil gelisah, akan ada perubahan-perubahan neurotransmiter di otaknya. “Nah, neurotransmiter ibu akan mempengaruhi sistem neurotransmiter si janin melalui plasenta. Selain itu, bila ibu selalu dalam keadaan takut akan meningkatkan produksi neural adrenalin, serotonin, dan gotamin, yang bisa masuk ke peredaran darah si janin, hingga mempengaruhi sistem sarafnya.”  Depresi juga bisa mengganggu kehamilan itu sendiri, terutama bila ibu tak mau makan. “Akibatnya pertumbuhan janin bisa terhambat. Bukankah metabolisme ibu tak maksimal, hingga pasokan oksigen pada janin juga tak maksimal,” terang Hasnah pula. Jika ini terjadi, berarti si ibu harus meningkatkan gizinya. “Dengan membaiknya kondisi ibu diharapkan janin pun akan mengejar ketinggalannya. Apalagi jika ketahuannya sejak dini, maka pertumbuhannya bisa terkejar. Walaupun kita juga tak bisa jamin apakah pertumbuhan organ janin tak terganggu, karena di trimester I itu, kan, saat pembentukan organ dan kelamin bayi.”  Depresi yang akut pun akan menyulitkan ibu dalam persalinannya. “Hisnya bisa tak teratur, jalan lahir bisa sangat kaku dan sulit membuka, atau posisi bayi tak kunjung turun. Nah, kalau terjadi deviasi persalinan seperti ini biasanya dokter akan melakukan sesar setelah sebelumnya dicoba memberikan stimulus untuk hisnya.”  Jadi, Bu, jangan biarkan depresi “menyerang”, segera atasi demi kebaikan janin dan Anda sendiri. Tentu para Bapak pun diharap mendukung Ibu yang tengah hamil agar tak sampai stres.  Indah Mulatsih . Foto : Iman (nakita)

TINGKATAN DEPRESI Depresi, tutur Chandra, bisa dibagi dalam 3 jenis: ringan, sedang, dan akut. “Depresi ringan ditandai tak bisa tidur, perasaan murung, dan tak bisa konsentrasi. Namun pada tingkat depresi ini, si ibu masih bisa menjalankan aktivitas dengan cukup memadai.”  Depresi sedang ditandai gangguan tidur lebih parah, tak bisa konsentrasi hingga dalam mengerjakan pekerjaan lebih lamban, mengambil keputusan lebih lambat, juga yang bersangkutan mulai bolos kerja. Ia pun akan mengalami gejala somatik atau gejala fisik yang jadi tameng gejala depresinya. “Entah lambungnya terasa kembung, matanya selalu pedas, dadanya selalu sesak, kepalanya sakit, tengkuknya selalu kencang. Namun bila ditanya, ia akan berkelit dirinya enggak stres, ‘Saya enggak sedih, kok. Cuma perut saya yang sakit.’ Jadi, ia tak menyadari kalau dirinya mengalami depresi.”  Sementara depresi paling berat bila ia mulai ada waham (keyakinan yang tak ada dasarnya) nihil. Misal, ia merasa dirinya sudah mati, paru-parunya sudah beku, jantungnya tak berdegup lagi. Namun setelah diperiksa oleh dokter, paru-parunya ternyata sehat-sehat saja tapi ia tetap yakin paru-parunya tak bekerja lagi.” Selain waham, ciri lainnya ialah ada halusinasi atau pengalaman panca indra tanpa ada rangsangan panca indra. Misal, saya mendengar orang bicara, tapi tak ada suara apa pun. “Ada pasien saya yang merasa kalau tidur ia didekap oleh bayangan hitam, bahkan disetubuhi segala, dan ia juga merasakan kenikmatan. Itu, kan, halusinasi penglihatan dan perabaan,” tutur Chandra.  Indah

Mei 25, 2009 Ditulis oleh lukman hakim | Anak, cinta, keluarga, syareah | , , , , | No Comments Yet

Tppis Minggu ini

UPAYA MENGHAMBAT PENUAAN KULIT * Jangan terlalu gemuk. Dengan gemuk, maka hilangnya lemak bawah kulit tidak terlalu kentara.  * Hindari sebanyak mungkin terpanggang sinar matahari, karena ultraviolet dapat merusak kulit dan menimbulkan kanker.  * Lancarkan selalu peredaran darah kulit dengan cara melakukan peningkatan aktivitas fisik, seperti olahraga dan massage/pijat.  * Peliharalah kulit selalu dengan rajin memberikan pelembab dan melakukan massage.

TIPS BUAT IBU BERSALIN * Lupakan kebanggaan, gengsi, dan tata krama selama proses persalinan. Ingatlah, yang penting adalah keselamatan Anda dan bayi Anda. Saat pertama kali bayi lahir, tak akan ada yang memperhatikan perilaku dan apa yang Anda katakan selama persalinan berlangsung.  * Kemukakan apa yang diinginkan. Termasuk di antaranya jika Anda menginginkan untuk di-support, diberi semangat atau dinasehati. Pun jika Anda tak menginginkan hal ini. Sebab, orang lain tak tahu apa yang Anda inginkan, jika tak diutarakan.

MENUNGGU PERSALINAN Istri yang hendak melahirkan kadang perasaannya serba tak menentu. Bahkan hal-hal kecil yang diperbuat suami bisa membuatnya jengkel. Nah, untuk menghindarinya sebaiknya lakukan beberapa tips berikut ini:  · Bicarakan dengan suami sebelum persalinan tentang aturan mainnya.  · Peringatkan suami bisa saja tingkah laku orang yang akan melahirkan berada di luar kontrol dan kerap berubah pikiran tentang sesuatu yang telah direncanakan. Dengan demikian para suami akan mencoba untuk lebih fleksibel dan mencoba mendengarkan suara/keinginan istri.  · Minta suami untuk membawakan banyak barang yang bisa dijadikan selingan menghabiskan waktu, seperti buku-buku atau games.  · Ingatkan suami bahwa dia akan sangat menolong hanya dengan kehadirannya di sana.

6 PETUNJUK PENTING SETELAH KEGUGURAN Petunjuk berikut ini dapat membantu untuk sembuh dari kejadian keguguran yang traumatis:  1. Cobalah untuk mengekspresikan perasaan pada suami tentang keguguran tersebut.  2. Temui dokter dalam waktu 2 hingga 4 minggu setelah keguguran untuk melakukan pemeriksaan lanjutan.  3. Bila keguguran ini bukan yang pertama kali dialami, Anda dan suami sebaiknya melakukan pemeriksaan fisik dan konsultasi genetis.  4. Perhatikan pula tanda-tanda adanya perdarahan vaginal atau bercak darah setelah keguguran. Laporkan bila terjadi perdarahan lebih dari 10 hari atau jumlahnya banyak. Juga perhatikan tanda-tanda infeksi, seperti demam dengan suhu di atas 37 derajat Celcius.  5. Lakukan kegiatan sehari-hari, tapi hindari hal-hal yang bisa mengakibatkan peningkatan perdarahan vaginal, misalnya kelelahan.  6. Hindari hubungan seksual selama 1 hingga 2 minggu setelah keguguran. Sebaiknya gunakan kontrasepsi. Tunggulah hingga terjadi periode menstruasi normal sebanyak dua atau tiga kali sebelum mencoba kembali hubungan seksual.  I/Indah, MB/Indah

SI KECIL PUN BISA SEDIH Bukan cuma orang dewasa, lo, yang bisa sedih. Hanya pada bayi, penyebab sedihnya lebih karena kebutuhan fisik yang tak terpenuhi. Jadi, bila si kecil yang berusia 3-4 bulan menangis, misal, biasanya karena ia lapar atau ada yang tak nyaman pada dirinya. Di usia 6-9 bulan lain lagi, biasanya ia akan sedih dan menangis jika orang yang selalu memberi kenyamanan tak ada di hadapannya. Ingat, di usia ini ia mulai mengenal seseorang. Namun mengatasinya tak sulit, kok. Tawarkan saja mainan favoritnya karena di usia ini si kecil masih mudah dialihkan perhatiannya.  MENGAKRABKAN SI KECIL DENGAN PAYUDARA IBU Si kecil menolak kala disusui ASI? Jangan panik dulu, Bu. Menyusu ASI memang tak semudah menyusu dari botol. Jadi, bila si kecil sudah kenal botol lebih dulu, mau tak mau perlu usaha ekstra agar ia akrab dengan payudara Ibu. Nih, ada kiatnya:  * Hindari memberi ASI ketika si kecil tengah menangis, karena kondisi ini membuatnya tak bisa mengisap dengan benar.  * Cari suasana tenang kala hendak menyusui karena suara/keadaan hiruk-pikuk akan mengalihkan perhatiannya sewaktu menyusu. Jika di rumah lagi banyak orang berdatangan untuk melihat si kecil, minta waktu sebentar untuk menyendiri guna menyusui si kecil. Jika perhatian si kecil terfokus hanya untuk menyusu, ia pun akan berkonsentrasi dalam mengisap.  * Jangan coba membangunkan si kecil bila ia mengantuk. Pada hari-hari awal kehidupannya, kebanyakan bayi terlalu mengantuk untuk menyusu. Jadi, normal, kok, bila ketika menyusu tiba-tiba ia tertidur. Toh, setelah agak besar, kebiasaan ini akan hilang sendiri.  * Hargai usaha si kecil ketika belajar menyusu. Sebaiknya kita pun posisi menyusui yang benar agar si kecil lebih terbantu.  * Percayalah, banyak latihan membuat ibu dan bayinya makin mahir. Jadi, jangan gampang putus asa, tapi cobalah terus. Lama-lama acara menyusu tak terasa akan makin lancar.

SESUAIKAN PERMAINAN DENGAN MOOD SI KECIL Ibu-Bapak mungkin pernah dibuat bingung, ketika si kecil yang biasanya senang bermain “kasar”, diputar ke sana-ke mari, kali ini menangis tak suka. Ternyata itu semua berkaitan dengan mood si kecil. Biarpun masih bayi, ia sudah punya mood dalam bermain, lo.  Biasanya, mood yang bagus ditunjang kondisi prima. Nah, dalam kondisi itu, si kecil akan menikmati setiap permainan yang menantang: mau “dilempar-lempar” pun tak masalah. Namun jangan sekali-kali lakukan itu jika ia lagi lelah karena mood-nya ikut-ikutan jelek, hingga permainan “kasar” akan membuatnya ketakutan dan tak nyaman. Begitu pula jika mood-nya sedang ingin bermanja-manja, karena ia lebih betah diayun-ayun dalam gendongan ketimbang diajak main “kasar”. Sebaliknya, jika ia lagi penuh semangat tapi malah diayun-ayun, ia pasti rewel karena gendongan membuatnya merasa tak bebas.  Yang juga perlu diperhatikan: jangan ajak si kecil bermain kala ia lagi lapar atau ngantuk, karena tak ada permainan yang pas untuknya kecuali makan atau tidur. Selain itu, sesuaikan jenis permainan dengan temperamen si kecil. Ada bayi yang suka “diputar-putar” di udara, tapi ada yang malah menangis ketakutan. Jadi, bila ia tak suka permainan “kasar”, coba cari alternatif lain. Tak perlu dipaksa, ya.  MEMBERSIHKAN GIGI Meski si kecil baru punya dua-tiga gigi susu, tapi tetap harus dibersihkan, lo. Caranya, bisa dengan menggunakan kain kasa steril yang dibasahi air hangat agar ia tak kesakitan.  Jika ingin mengenalkan sikat gigi, tunggu sampai ia bisa duduk dan senang mencontoh tingkah laku kita sehari-hari. Biarkan ia memperhatikan kita menggosok gigi, dari cara memegang sikat gigi, memberi odol, menyikat gigi, hingga berkumur dan membuang air kumuran.  Saat ia mulai berpura-pura menggosok giginya, coba ajak bermain sikat-sikatan secara bergiliran. Biarkan ia menyikat gigi kita, lalu ganti kita yang menyikat giginya. Jika ia menolak, tak usah dipaksa. Buat anak yang pertama kali merasakan, menggosok gigi bisa terasa sakit, lo. Jadi, tetap gunakan cara lama, yaitu pakai jari tangan kita yang diberi kasa steril untuk membersihkan gigi-giginya.  Kali lain, ajak ia menggosok gigi di depan cermin. Awalnya, dongengkan tentang gigi atau kenalkan jenis-jenis gigi. Selagi bermain itu, coba sentuhkan sikat giginya. Biasanya anak suka permainan ini karena ia bisa melihat “teman”nya di cermin juga sedang menggosok gigi.  Namun harus sabar, lo. Soalnya, mengenalkan sikat gigi memang bukan hal mudah. Jadi, jangan gampang putus asa, ya.  Dari berbagai sumber/Hani

Percaya Pada Alam Gaib Sebagai orang beragama, percaya pada alam ghaib merupakan sesuatu yang pokok. Sebab, jika kita tak percaya alam gaib berarti kita juga akan sulit percaya Tuhan, malaikat, kitab, dan sebagainya. Nah, karena sifatnya gaib diperlukan argumen-argumen. “Sebenarnya Al Quran telah banyak memberikan argumen. Tapi perlu juga dibahas bagaimana caranya kita sampai pada kepercayaan terhadap alam gaib tersebut,” jelas dosen Filsafat dan Tassawuf IAIN Jakarta, DR. Mulyadhi Kartanegara, pada acara Ibu, Bayi & Balita yang ditayangkan ANTeve, hasil kerja sama nakita dengan PT Endrass Perdana Film.  Bahkan, anak pun sesungguhnya memiliki kapasitas untuk memahami. Kendati memang untuk hal-hal gaib, mereka masih sulit menangkapnya secara rasional. “Tapi secara naluri dan batin, mereka tahu, kok.” Kita sering, kan, mendengar mereka bicara soal hantu, atau menceritakan kembali mimpi-mimpi seram. “Itu, kan, berarti sudah ada sense atau pengertian tentang hal tersebut. Hanya saja mereka belum bisa mengungkapkannya secara verbal. Apalagi ini, kan, sifatnya tidak terlihat.”  Karena itu, lanjut Mulyadhi, bukan hal mustahil mengajarkan pada anak tentang alam gaib karena mereka sudah punya pengalaman tentang itu. Misalnya saja, kita mendiskusikan mimpi saat mereka menceritakannya. Atau bisa juga lewat tayangan televisi, buku cerita, yang memang bertema atau menyinggung soal alam gaib.  Yang jelas, untuk meyakinkan pada anak tentang alam gaib itu kuncinya hanya satu, kita dulu yang harus percaya.

Mei 23, 2009 Ditulis oleh lukman hakim | Anak, cinta, ilmu pengetahuan, keluarga, syareah, wanita | , , , , , | No Comments Yet

DAYA INGAT YANG MENGAGUMKAN

Bayi pun bisa mengingat, lo. Apalagi jika pengalaman itu amat berkesan di hatinya, akan dibawanya hingga besar.

Orang tua mana, sih, yang ingin dilupakan oleh buah hatinya? Jadi, wajar saja, ya, Bu-Pak, bila kita cemas kala harus meninggalkan si kecil yang baru beberapa bulan untuk waktu lama, entah lantaran urusan pekerjaan atau mendapat tugas belajar di luar kota/negeri. Jangan-jangan, sekembalinya kita dari tugas, si kecil tak lagi mengenali kita.

Padahal, kecemasan tersebut sebenarnya tak perlu terjadi. Soalnya, meski masih bayi, si kecil sudah punya daya ingat dan memori. Jadi, “bayi akan teringat terus, baik pada hal-hal yang punya kesan amat manis maupun tak menyenangkan,” tutur Dra. Dewi Mariana Thaib. Bahkan, meski kesan tersebut hanya selintas-lintas saja dan akan terlewat dengan kejadian lain yang lebih menyenangkan, si kecil tetap ingat.

DIDAPAT DARI PENGALAMAN

Daya ingat, terang psikolog pada RS Bunda, Jakarta ini, sebetulnya bagian dari kecerdasan. “Dalam kecerdasan itu, kan, ada perkembangan motorik, daya nalar, emosi, daya ingat, dan konsentrasi.” Jadi, daya ingat masuk dalam perkembangan kognitif.

Memang, diakui Dewi, fungsi daya ingat bayi belum terlalu banyak. Kita pun tak bisa memastikan kapan bayi akan ngeh dengan apa yang dilihat atau diingatnya, karena daya ingat merupakan hal yang abstrak. “Daya ingat adalah sesuatu yang pada akhirnya mengarah pada keberadaan diri dengan lingkungan sosialnya, entah dia suka atau tidak berada pada lingkungan sosialnya.” Dengan demikian bisa dikatakan, daya ingat didapat bayi dari pengalaman dan yang diajarkan.

Daya ingat yang diperoleh dari pengalaman ini, lanjut Dewi, amat erat kaitannya dengan perkembangan motorik maupun tugas-tugas perkembangan. “Begitu lahir, bayi, kan, harus beradaptasi dengan keadaan sekelilingnya.

Kecemasan-kecemasan mulai timbul dan pancaindra mulai berfungsi. Ia mulai kontak dengan ibu saat digendong dan disusui ASI sambil meraba-raba tubuh sang ibu.”

Kemudian di usia 3-6 bulan ia mulai mengangkat kepalanya, belajar mengenal orang, tersenyum, mengoceh, mencoba meraih benda yang didekatnya. Setelah usia 6 bulan, ia mulai belajar pelan-pelan merangkak, tengkurap bolak balik, duduk, dan sebagainya. “Nah, bila dulu daya serapnya lewat mainan hanya sekadar dapat meraih saja, kini sudah bisa dipegang-pegang dan dipindah-pindah tangan. Ia juga sudah bisa membedakan mana orang tuanya.”

Berikutnya, di usia 9 bulan ia mulai punya rasa, seperti rasa manis dan asin. Makanya, bila ia tak suka asin, ia akan menolak kala diberi makanan yang rasanya asin. Lalu di usia 9-12 bulan ia sudah bisa berdiri, meraih segala sesuatu, melihat sekelilingnya, berkata satu-dua kata, bahkan bisa berjalan. Jadi, daya jangkaunya sudah lebih luas lagi.

“Meski fungsi indra dan intelektualnya belum sempurna seluruhnya, tapi ia mulai merasakan reaksi dari apa yang dilakukannya. Dari situ ia mulai mengingat, apa yang boleh dan tidak dilakukannya.” Misal, di usia 6-9 bulan, kala ia menjatuhkan mainan, ia berpikir hal itu menyenangkan dan ia akan mengingatnya kembali, hingga ia pun menjatuhkan lagi mainannya.

CEMAS DAN MENARIK DIRI

Jadi, sangat erat kaitannya dengan tugas-tugas perkembangannya: ia belajar dari apa yang dilakukannya atau pengalamannya. Pada bayi normal, terang Dewi, ia pun bisa merasakan reaksi dari yang sudah ia lakukan, dan apakah hal itu menyenangkan atau tidak. Pengalaman yang menyenangkan akan terus diulang-ulang.

Nah, pengalaman menyenangkan atau berkesan ini akan melekat dan membekas terus dalam ingatannya. Itulah mengapa, pada masa 0-12 bulan ini diharapkan kehadiran bayi bisa diterima dan dirinya merasa nyaman di lingkungannya. Apalagi, meski belum mengerti, bayi pun bisa merasakan dirinya diterima atau tidak. “Ia bisa melihat bagaimana sikap ibu yang penuh kasih sayang, entah dari cara si ibu menyanyi, mengajak bicara, tersenyum, dan sebagainya.”

Bila si ibu bisa menerimanya dengan penuh kasih sayang, ia pun akan merasa aman, nyaman, dan diterima dalam lingkungan sosialnya yang baru di dunia. Hal ini akan tampak dari pancaran matanya yang selalu berbinar, pandangannya yang tak kosong, dan wajahnya yang kerap tersenyum. “Biasanya bayi-bayi seperti ini akan tumbuh jadi bayi lucu dan menyenangkan pula.”

Sebaliknya, ia pun bisa merasakan bila tak diterima, yakni dari sikap sang ibu yang kasar padanya, entah karena si ibu belum siap menerima kehadiran anaknya atau sebab lain. Pengalaman tak menyenangkan ini akan membekas di ingatannya. Dampaknya, “ia selalu dilanda kecemasan dan akan menarik diri dari hal-hal tak menyenangkan yang diterimanya dari lingkungan.” Itu sebab, tekan Dewi, jangan sampai di tahun pertama ini bayi punya trauma berat. “Kelak ia akan jadi takut dan mengalami kesulitan bila masuk ke lingkungan sosial.”

MENDETEKSI DAYA INGAT

Tentunya, daya ingat bayi tak sama pada tiap anak: ada yang baik dan tidak. Untuk mendeteksinya, lihat saja tugas-tugas perkembangannya.

“Bila ia dapat melewati tugas-tugas perkembangannya dengan baik dan tanpa kesulitan, berarti kecerdasannya normal,” kata Dewi. Soalnya, pada anak cerdas, biasanya daya ingatnya juga baik. Jadi, bayi-bayi yang kecerdasannya normal cenderung lincah dan cepat bereaksi pada sesuatu hal, kecuali jika mengalami kegemukan atau lebih kerap digendong.

Nah, jika tugas-tugas perkembangan yang dilaluinya meleset agak jauh atau tak sesuai, biasanya kecerdasannya pun tak begitu bagus. “Daya ingat yang tak begitu baik ini biasanya tampak dari caranya menangkap instruksi: ia takkan mengerti instruksi yang diberikan padanya.” Jadi, bila dalam tugas-tugas perkembangannya ia tak menunjukkan respon, kita patut curiga dan segera telusuri sebabnya.

Walau begitu, bukan berarti tiap bayi yang kala dipanggil namanya tak menoleh atau disodori mainan diam saja, maka daya ingatnya tak baik, lo. “Pada tiap anak, masalah yang dipunyainya tentu beda. Bisa saja bukan daya ingatnya yang tak baik, tapi karena ada masalah di indra pendengarannya atau saat ibu hamil punya penyakit tertentu yang bisa berpengaruh pada perkembangan kecerdasan bayi, dan sebagainya.”

Bisa juga karena kurang dilatih motoriknya hingga ia mengalami keterlambatan perkembangan.” Bayi gemuk dan sering dipangku, misal, bisa jadi motoriknya lamban. Makanya, disarankan agar orang tua rajin menstimulasi bayinya di tahun pertama ini. Soalnya, masa ini merupakan penentuan karakter si bayi kelak. Lagi pula, bila kita rajin menstimulasi si kecil, kita jadi tahu bagaimana perkembangannya. Hingga, bila dirasa ada keterlambatan, kita bisa segera memeriksakannya ke dokter: apakah ada sesuatu dengan telinganya, mata, otak, atau sarafnya. Setidaknya, bila terdeteksi di usia ini, masih mungkin diobati ketimbang bila ia sudah usia balita.

Yang jelas, Bu-Pak, bila dirasa si kecil punya daya ingat tak baik, segera periksakan ke dokter. Terlebih bila kita sudah rajin menstimulasinya, tapi ternyata ia tak juga mengalami kemajuan perkembangan. Selain itu, harus pula disadari, daya ingat bayi pada sesuatu hal bisa berubah. “Jadi, bisa saja pengalaman itu terlupakan bila banyak pengalaman lain yang lebih berkesan.” Kecuali bila pengalaman yang menyenangkan itu amat membekas, maka tak mudah dilupakan. Sama halnya bila ia mendapat pengalaman tak menyenangkan yang amat membekas, juga akan teringat terus. Misal, orang tua memperlakukannya secara kasar.

Disamping tentu saja, bila terjadi sesuatu hal yang berpengaruh pada kepala atau otaknya, semisal akibat terjatuh atau mengalami kejang-kejang, akan membuat daya ingatnya juga berubah.

AJARKAN BERULANG-ULANG

Untuk merangsang daya ingat, tutur Dewi, bisa dilakukan dengan berbagai cara seperti mengajak bicara, bermain, bernyanyi, dan lainnya. Namun cara menstimulasinya harus benar, yaitu yang menyenangkan, bukan dipaksa. Selain itu, komunikasi tak boleh dilupakan. Jadi, kita harus sering mengajaknya bicara. “Biasanya kalau sang ibu rajin, usia 9 bulan bayi sudah mulai mau berkata- kata.”

Tentunya, dalam menstimulasi juga perlu alat peraga atau benda yang dimaksud. Misal, “Ini bola.” sambil kita tunjukkan bolanya, lalu kata-kata tersebut diulang-ulang dengan menggunakan pertanyaan, “Mana bolanya?” Bila daya ingatnya baik, lama-kelamaan saat ditanya ia akan cepat memberi respon. Jadi, kala ditanya, “Mana bolanya?”, ia akan langsung menunjuk benda yang dimaksud.

Di usia setahun biasanya ia sudah bisa sedikit bicara, satu atau dua kata, hingga kita bisa menggunakan cara dengan pertanyaan dibolak-balik seperti, “Ini apa?” sambil memperlihatkan sebuah bola, atau, “bolanya mana?” Makanya, begitu si kecil tampak mulai ada keinginan bicara, alat peraga sebaiknya diperbanyak. Kita bisa membuatnya sendiri dari guntingan gambar yang ditempelkan pada potongan-potongan karton kecil. Carilah gambar yang tak terlalu besar semisal gambar buah apel. Sambil ditunjukkan karton bergambar itu, katakan, “Ini apel.” Agar ia lebih mudah mencerna maksudnya, lebih baik lagi bila ada apel yang sebenarnya atau apel mainan dari plastik.

Dengan seringnya bayi melihat dan diajarkan berulang-ulang, akan melekat di kepalanya, hingga otomatis daya ingatnya juga baik. Hal ini juga berlaku, pada contoh di awal tadi. Jika ayah harus meninggalkan bayinya untuk waktu lama, maka ibu harus sering-sering memperlihatkan foto-foto ayah maupun memperdengarkan suara ayah ketika sedang menelepon atau rekaman suaranya. Dengan demikian diharapkan si kecil tak asing lagi atau tak merasa takut kala dipegang ataupun menjerit saat bertemu dengan ayahnya kelak.

Cara ini juga bisa dilakukan untuk mengenalkan anggota keluarga yang jarang bertemu semisal kakek-nenek atau om-tante. Pendeknya, orang tua harus rajin mengenalkan hal-hal di sekelilingnya, mengenai dirinya, keberadaannya, dan hubungannya dengan orang-orang di sekelilingnya. Jadi, tak usah takut lagi si kecil bakal lupa sama orang tuanya, ya, Bu-Pak.

Dedeh Kurniasih . Foto : Iman (nakita)

Mei 23, 2009 Ditulis oleh lukman hakim | Anak, cinta, ilmu pengetahuan, keluarga, wanita | , , , | No Comments Yet

Anakku Suka Membantah

Sebagian ibu-ibu suka mengeluhkan keadaan anaknya yang gampang terpancing dan terprovokasi oleh teman-temannya di sekolah. Ia sering mengulang-ulang kata dalam bentuk yang terus menerus, mengajukan pertanyaan terumenerus walaupun sudah aku jawab, sangat suka membantah dan membangkang, cepat marah sehingga ia jadi tidak naik kelas. Mungkin diantara obat yang paling baik untuk anak ini adalah memperbaiki cara hubungan keseharian antara kedua orang tua dengan anaknya tersebut.

Banyaknya pertanyaan anak kepada kedua orang tua, khususnya jika dalam bentuk tertentu. Misalnya: Wahai ibu, apakah engkau mencintaiku? Bapakku, apakah engkau juga mencintaiku? Engkau marah kepadaku? Pertanyaan-pertanyaan ini menunjukkan ia begitu cemas ketika menghadapi ayah dan ibunya, tidak merasa aman dan tenang ketika bersama kedua orang tuanya.

Sebagian orang tua suka menceritakan kekurangan dan masalah anaknya di depan orang lain, seolah-olah anaknya sedang tidak ada. Mayoritas orang tua meyakini bahwa cara yang paling utama untuk mengajari anak adalah membuatnya terdiam dan terpojok di depan tamu tentang segala masalah anaknya walaupun masalah sepele.

Dan mungkin diantara sikap yang jelek adalah ketika anakmu datang kepadamu mengajak bicara denganmu tentang sesuatu atau ia ingin diantar ke WC, atau ingin makan atau pun minum, maka engkau meladeninya dengan disertai perkataan yang jelek, misalnya “Wahai keledai, … wahai si bodoh”.

Dan sebagian lainnya meyakini bahwa selama anaknya masih kecil maka tidak perlu mengajak bicara dengan anaknya, bercanda dengannya, pergi bersamanya bertamasya. Hal ini menimbulkan tekanan jiwa pada anak yang oleh para pakar psikologi dinamakan “sindrom relasi interpersonal” antara anak dengan orang tuanya.

Maka, apabila seorang anak mengulang-ulang pertanyaan atau ungkapan walaupun sudah dijawab secara berulang-ulang juga; bertindak kasar dan cepat; atau memukul kawannya tanpa sebab yang jelas; bergerak tanpa makna seperti tertawa tanpa sebab, berteriak dan menangis tanpa sebab, maka anak tersebut pasti sedang mengalami salah satu dari sekian hal, yaitu ia butuh akan perhatian, afeksi dari kedua orang tua, khususnya ketika ibu atau bapaknya sibuk dan tidak memperhatikannya, mungkin juga sang anak mengalami tekanan jiwa karena mendapat beban yang ia tidak mampu kerjakan , atau pun mengalami kesalahan –walaupun kecil atau pun gagal dalam melaksanakan perintah– karena takut dicela dan dikasari.

Adapun trik-trik solusi untuk permasalahan di atas adalah sebagaiberikut:

  • Memberikan kepada anak perhatian dan bantuan yang “lebih” untuk menguatkan kepribadian dan kepercayaan dirinya.
  • Tidak acuh tak acuh terhadap permintaan sang anak apalagi membentaknya di depan orang lain sehingga ia tidak merasa terlukai, jatuh harga dirinya, hina dan rendah.
  • Membangun hubungan muamalah yang baik antara kedua orang tua dengan anak, duduk bersama, berbincang-bincang, dan menceritakan serta turut-serta dalam aktivitas bersama sang anak, baik olah raga, agama, kekerabatan, dan lain-lain.
  • Acuhkan sifat anakmu yang jelek dengan terus engkau tidak meninggalkannya.
  • Hendaklah selalu memelihara sifat lembut dalam menghadapi penyimpangan dan kesalahan sang anak. (Abm)

Mei 23, 2009 Ditulis oleh lukman hakim | Anak, cinta, keluarga, syareah, wanita | , , , , , , | No Comments Yet

ANAK KURUS VS ANAK SEHAT

Kurus memang tak selalu berarti tak sehat, kok. Hanya saja, kita harus tahu penyebab mengapa ia tampak kurus. Orang tua mana, sih, yang bisa anteng-anteng saja kalau anaknya tampak kurus. Bisa dipastikan berbagai upaya dilakukan orang tua agar si anak bisa gemuk. Sebab, dianggapnya anak gemuk, kan, pertanda sehat.  Memang, diakui Aryono Hendarto, MD, dokter spesialis anak dari Subbagian Gizi dan Metabolik Bagian Ilmu Kesehatan Anak, RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta, sering terdapat kekeliruan persepsi dari para orang tua. “Anak sehat yang ideal itu identik dengan badan yang gemuk.” Padahal, tentu saja tidak. “Karena sesuatu yang berlebihan atau kekurangan pasti tak baik. Normalnya, berat badan yang sesuai usia dan tinggi badannya.”  ISTILAH ANAK KURUS  Secara fisik, menurut Aryono, anak dikatakan kurus tak hanya berdasarkan berat badan saja tapi juga tinggi badan. Ada dua hal penting yang menyebabkan anak disebut kurus; 1)Kurus karena berat badannya kurang menurut umur, sementara tinggi badannya sesuai umur atau kurang menurut umur. 2)Kurus karena tinggi badannya yang lebih menurut umur sementara beratnya cukup menurut umur.  Nah, kriteria sehat menurut WHO mencakup sehat fisik dan jiwa. “Anak kurus yang kedua bisa dikatakan sehat, kalau kriteria sehatnya itu jarang sakit. Sedangkan anak kurus yang pertama dikatakan tak sehat karena berat badannya dan bahkan tingginya pun kurang atau tak sesuai menurut umur,” papar Aryono, yang juga berpraktek di RSIA Hermina Jatinegara.  Pada prinsipnya, lanjut Aryono, kendati kurus, berat badan anak harus naik setiap bulannya sesuai dengan umur. “Nah, yang jadi masalah kalau anak kurus beratnya tak naik-naik. Ini harus dicari penyebabnya. Bisa karena asupan nutrisinya kurang, aktivitas anak yang berlebih meski asupannya cukup dan bisa juga karena ada penyakit yang melatarinya sehingga asupan makanannya kurang.”  PARAMETER KURUS TIDAKNYA  Berat badan merupakan salah satu parameter pertumbuhan seorang anak, di samping faktor tinggi badan. Karena itu terdapat istilah tumbuh kembang pada anak. Tumbuh berarti bertambah besar sel-selnya dan kembang berarti bertambah matang fungsi sel-selnya. “Nah, bila anak kurus beratnya tak sesuai dengan berat badan ideal menurut umur, maka dikatakan pertumbuhannya kurang baik,” terang Aryono.  Yang jelas, berat badan ideal seorang anak memiliki range. Standarnya bagi anak laki-laki dan perempuan juga berbeda. Biasanya anak perempuan mempunyai berat badan lebih rendah dibandingkan anak laki-laki. Untuk ukuran berat badan ini umumnya di Indonesia menggunakan parameter yang diadaptasi dari Amerika yaitu NCHS (National Centre for Health Statistic). Ada juga yang menggunakan hitungan Departemen Kesehatan untuk konsumsi nasional, yaitu KMS (Kartu Menuju Sehat). Nah, pada parameter ini bisa dilihat berat badan ideal seorang anak menurut umurnya dan juga jenis kelaminnya. “Bila berat badan anak lewat dari standar 100 persen maka dikatakan overweight dan di atas 120 persen disebut obesitas, sedangkan kalau beratnya di bawah 80 persen berat badan ideal dikatakan kurang gizi dan manifestasinya anak tersebut tampak kurus,” jelas Aryono.  Namun, Aryono mengingatkan, bahwa berat badan harus dikaitkan dengan umur dan tinggi badan. Misal, anak perempuan 12 bulan dengan berat badan 7,2 kg dan tinggi badan 72 cm. Sedangkan berat badan rata-rata anak perempuan umur 12 bulan sekitar 9,6 kg. Jadi berat badan anak tersebut 75 persen dari berat badan rata-rata seusianya. Ini berarti anak tersebut termasuk gizi kurang. Tapi, kalau dilihat dari tinggi badannya maka ; 72 cm (tinggi badan anak) : 74 cm (tinggi badan seharusnya) x 100 persen, maka tinggi badannya adalah 98 persen dari tinggi badan ideal. Ini berarti bila dilihat dari tingginya yang baik maka anak tersebut termasuk gizi baik. “Interpretasinya adalah anak tersebut mengalami kekurangan gizi akut, karena berat badan kurang untuk berat badan rata-rata seusianya, tetapi tinggi badannya masih bagus. Tapi andaikata tinggi badannya sudah ikut terhambat maka dikatakan gizi kronik yang biasanya mencerminkan gizi buruk, artinya kekurangan gizi sudah berlangsung dalam waktu lama,” terang Aryono.  FAKTOR NUTRISI  Bila yang terjadi adalah anak kurus dengan berat badan yang tak naik-naik, tentu saja bisa dikatakan sehat dan bisa juga tidak. Karena itu harus dicari penyebabnya; karena faktor nutrisi atau non nutrisi. Faktor nutrisi, misal, sang ibu merasa sudah cukup memberi asupan makanan yang bergizi. Kuantitas dan kualitasnya baik sesuai dengan menu gizi seimbang yang mengandung; karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan mineral. Setelah dianalisis asupan dietnya ternyata yang diberikan kuantitasnya masih kurang dari kebutuhan. Padahal setiap bulan seorang anak beratnya harus selalu ada kenaikan. Secara kasar dapat dipakai patokan sebagai berikut; anak umur setahun beratnya tiga kali berat badan lahir. Umur 2 tahun kira-kira 4 kali berat badan lahir. Jadi, kalau bayi lahir dengan berat badan 3 kg maka pada usia 1 tahun beratnya 9 kg dan pada usia 2 tahun jadi 12 kg. Lebih spesifik lagi, bayi 3 bulan pertama kenaikan beratnya antara 600 gr-1000 gr. Jadi per minggunya naik 150-250 gr. Kemudian 3 bulan kedua naik sekitar 600-700 gram per bulan. Tiga bulan ketiga sekitar 400-500 gr. Tiga bulan keempat 300-400 gram. Di atas satu tahun, 1-3 tahun kira-kira kenaikannya sekitar 250 gram atau seperempat kilogram per bulan.  Nah, kalau ternyata setiap bulan berat badannya tak naik atau naik tapi tak memuaskan maka harus dievaluasi kembali masukan nutrisinya dengan memperhitungkan pula aktivitas fisiknya. Apakah sudah cukup untuk mengantisipasi kelebihan aktivitasnya. “Namun dengan catatan anaknya sehat atau tak ada penyakit. Karena kalau aktivitasnya berlebih sementara masukan kalorinya cukup atau pas-pasan, maka kalorinya tak cukup disimpan untuk menaikkan berat badannya.”  Memang ada periode-periode tertentu di mana anak sedang aktif, seperti usia satu tahun, anak mau bisa jalan. Pada anak-anak ini harus diberi tambahan kalori. Jadi kalau anak kurus tapi aktif dan tak ada penyakit yang mendasarinya maka asupan makanannya itu yang harus dianalisis.  Untuk anak sehat yang kurus dalam hal makan pun tak ada yang khusus. Makanannya tetap dengan gizi seimbang sesuai dengan kelompok umurnya hanya jumlah kalorinya disesuaikan dengan kebutuhan menurut umur. Kecuali untuk anak sakit. Misalnya, anak sakit panas maka diberi yang lunak. Kalau diare diberi yang mudah diserap/dicerna.  FAKTOR PENYAKIT  Sementara itu ada juga anak kurus yang tak sehat. Menurut Aryono, biasanya karena terdapat penyakit yang mendasarinya. Akibatnya anak tak mau makan/anoreksia. Di Indonesia beberapa penyakit yang dapat menyebabkan anak kurus akibat tak mau makan antara lain adalah infeksi seperti infeksi paru-paru (TBC), infeksi saluran kemih, infeksi parasit dan lain-lain. “Selama penyakitnya tak disembuhkan maka tetap akan kurus, sebab asupan makannya kurang karena anak tak nafsu makan. Dengan begitu berat badannya pun tak naik-naik.”  Biasanya anak kurus yang tak sehat karena ada penyakit yang melatarinya akan tampak seperti pucat, lesu, demam, tak nafsu makan dan berat badan pun tak mau naik-naik. Tapi bila penyakitnya disembuhkan, otomatis nafsu makan anak pun jadi membaik. Dengan demikian berat badan pun akan bertambah.  BUKAN TURUNAN  Yang jelas, anak kurus bukan faktor turunan, lo. Berbeda dengan anak gemuk; menurut hasil penelitian, kalau kedua orang tuanya gemuk maka 70 persen anaknya berisiko gemuk. Bila hanya salah satu orang tua yang gemuk maka 40 persen anak berisiko gemuk. Sedangkan bila kedua orang tuanya tak gemuk maka anak berisiko 7-10 persen gemuk.  Hal itu tak berlaku pada anak kurus. Kecuali masalah tinggi badan yang dipengaruhi kedua orang tuanya. Tinggi badan ini bisa membuat penampilan anak tersebut tampak kurus atau tidak. Bila kedua orang tuanya tinggi dan anaknya pun tinggi sehingga tampak kurus. Tapi, bisa juga, lo, kedua orang tuanya tinggi tapi anaknya pendek. Nah, kalau kemudian anaknya sering sakit, ya, jadi tampak kurus.”  Begitupun dengan berat badan lahir. Bukan berarti bila berat lahirnya rendah lalu akan membuat kelak anak jadi kurus. Berat badan lahir normal biasanya sekitar 2,5 ­ 4 kg. Kecepatan tumbuh kembangnya sama sesuai kurva tumbuh kembang. Sedangkan, pada berat badan lahir rendah dibedakan dalam dua hal, yaitu karena umur kehamilannya kurang/prematur dan karena umur kehamilan cukup, semisal 39 minggu tapi berat badan janin rendah, misal 2 kg, maka dikatakan dismatur atau mengalami retardasi pertumbuhan intra uterin dalam rahim.  Nah, bayi yang dismatur biasanya perkembangan berat badannya akan mengejar ketinggalannya. Karena sebetulnya dia normal tapi mengalami hambatan pertumbuhan dalam rahim. Justru setelah lahir bayi-bayi dismatur ini rakus dan bisa mencapai berat badan seperti berat badan bayi normal. Sedangkan yang lahir prematur, dengan berat badan lahir sangat rendah, misal 1 ­ 1,5 kg tentu memakai kurva perkembangan yang berbeda. Bisa jadi kenaikan berat badan selanjutnya pun mungkin tak seperti berat badan anak normal.  Nah, Bu-Pak, setelah kita tahu rumusan berat badan anak jangan lagi membandingkan-bandingkan berat badan anak dengan anak tetangga, ya.  Dedeh Kurniasih . Foto : Iman (nakita)

KIAT MENGGEMUKKAN BADAN ANAK Untuk membuat anak kurus menjadi gemuk, sangat tergantung penyebabnya. Bila lantaran penyakit, ya, harus disembuhkan dulu penyakitnya. Umumnya setelah sembuh dari penyakit, nafsu makannya akan membaik sehingga ia tak sulit makan. “Setelah itu berilah nutrisi yang baik agar berat badannya bertambah,” terang Aryono. Bila anak kurus bukan lantaran penyakit, maka untuk membuatnya menjadi gemuk dilakukan dengan menganalisis diet makannya. Tentu dengan menu gizi seimbang. Apakah asupan makannya sehari-hari sudah memenuhi kebutuhan sesuai umur dan aktivitasnya. “Jika anaknya termasuk aktif, dengan sendirinya maka asupan makanannya harus lebih banyak secara kuantitas.” Nah, bila berat badannya tak kunjung naik berarti asupannya tak memenuhi kebutuhannya.  Sebetulnya untuk mencapai berat badan ideal sesuai umur sangat ditentukan oleh kuantitas dan kualitas makanan. Disamping itu pola makan, jadwal pemberian makan dan cara pemberiannya pun berpengaruh. Dalam hal pola makan, misalnya, bayi 0-4 bulan diberikan ASI eksklusif, usia 4-6 bulan makanan lumat seperti biskuit, bubur susu, usia 6 bulan nasi tim saring, usia 9 bulan nasi lembek/makanan padat. “Di atas 1 tahun sudah seperti makanan orang dewasa tapi masih lembek dan tak merangsang seperti banyak lada atau cabe.”  Dalam hal jadwal makan harus diperhatikan waktunya. Ingat, Bu, perut anak kosong setiap 3-4 jam. Karena itu biasanya pemberian makan sekitar 7 kali sehari yang terdiri 3 kali makanan padat dan selebihnya susu untuk anak usia 1 tahun ke atas. “Jadi jangan mentang-mentang mau anak gemuk lalu dipaksa makan setiap jam, padahal belum waktunya makan. Itu, kan, malah jadi tak sesuai dengan fisiologis atau keadaan fungsi normal pencernaannya.”  Cara pemberian juga penting dalam arti kata, anak tak boleh dipaksa . Misal, pada anak periode 6-9 bulan, periode kritis di mana anak belajar mengkoordinasi otot-otot menelan dan mengunyah. Sehingga bila diperkenalkan makanan padat, pada umur-umur sekian kadang dilepeh/dimuntahkan kembali. Nah, orang tua sering menginterpretasikan bahwa si anak tak mau makan atau tak senang makanannya. Padahal sebetulnya belum terampil. Karena orang tua cemas, buru-buru diberikan makanan yang cair-cair saja. Lama-lama jadi kebiasaan. “Kalau dilepeh, biarkan saja dan dicoba lagi.”  Dedeh

PEMBERIAN VITAMIN Selain makronutrien, seperti karbohidrat, protein, dan lemak, dalam tumbuh kembang anak dibutuhkan juga mikronutrien seperti vitamin dan mineral. “Bila anak kurus yang sehat sudah mendapatkan makanan yang memenuhi kaidah gizi seimbang tentu tak perlu diberikan vitamin lagi,” jelas Aryono. Sebab vitamin dibutuhkan oleh anak dengan pola makan yang tak memenuhi kaidah gizi seimbang, tak nafsu makan, yang sedang sakit atau yang baru sembuh dari suatu penyakit.  Pemberian ini diharapkan bisa memenuhi kebutuhan vitaminnya dan juga anak jadi nafsu makan. “Tapi meski diberikan vitamin, anak kurus karena penyakit, selama penyakitnya itu tak diobati maka tetap saja nafsu makannya kurang baik.”  Jadi, Bu-Pak, vitamin itu bukan perangsang nafsu makan atau penambah nafsu makan, tapi meningkatkan nafsu makan kalau anak itu kekurangan vitamin.  Nah, konsumsi vitamin yang berlebih juga tak baik, lo. Semisal vitamin yang larut dalam lemak; vitamin A, D, dan E yang diolah dalam hati. Bila berlebihan akan membebani kerja hati. Kecuali vitamin yang larut dalam air seperti vitamin C. Jika kelebihan akan dikeluarkan dalam air seni.  Karena itu, orang tua harus bijak dalam memberikan vitamin buat buah hatinya.  Dedeh

Mei 22, 2009 Ditulis oleh lukman hakim | Anak, cinta, ilmu pengetahuan, keluarga, syareah, wanita | , , , , , , | No Comments Yet

UDAH GEDE MASIH NGEDOT?!

Segera stop jika si kecil masih ngedot. Kuncinya, kita mesti tega!

Banyak, lo, anak usia 3-5 tahun yang masih menyusu dari botol. Ada yang terang-terangan dalam arti tak malu melakukannya di mana pun ia berada, baik di depan orang tua maupun orang lain atau teman-teman sebayanya. Namun ada juga yang melakukannya secara sembunyi-sembunyi; ia hanya “berani” menyusu dari botol kalau di rumah dan cuma di depan orang tua serta pengasuhnya, tapi di “sekolah” atau di lingkungan lain, kalau mau menyusu harus ngumpet dulu.

Kebiasaan menyusu dari botol yang berlangsung hingga usia prasekolah, menurut Mien Sumartono, merupakan indikasi dari kurangnya rasa aman dan nyaman pada anak. “Umumnya, anak dekat dengan botol karena sejak semula pemberian susu tak lewat ASI. Tentunya saat ia masih kecil, tiap kali menyusu dari botol, ibunya akan selalu berada di dekatnya. Entah sambil mengusap-ngusap kepalanya atau sambil mengelus-ngelus punggungnya. Nah, rasa itulah yang tak bisa lepas dari anak.” Jadi, rasa itu merupakan suatu hal yang sangat berarti yang tak dapat digantikan dengan hal lainnya.

Nah, karena rasa aman dan nyaman itulah, sekalipun malu pada teman-temannya, ia tetap melakukannya. Soalnya, faktor kebutuhan itu tak bisa dibendung. “Ingat, ketergantungan si anak tersebut sudah lama berjalan hingga kini ia berusia prasekolah. Jadi, perbuatannya itu telah menjadi rutinitas yang sulit dihilangkan. Anak akan merasa tak enak atau ada sesuatu yang hilang jika kebiasaannya itu tak ia kerjakan. Dengan demikian, yang tadinya suatu ketergantungan kini berubah menjadi kebutuhan,” tutur psikolog pada DIA-YKAI, Jakarta ini.

KURANG PERHATIAN

Tentu saja, sikap orang tua yang cenderung membiarkan anaknya menyusu dari botol akan makin memperkuat kebiasaan itu. “Bisa jadi, kan, sebenarnya orang tua tak pernah menyapih anak dari botol hingga anak pun lama-lama jadi ketergantungan dengan botolnya,” lanjut Mien. Selain, kebiasaan orang tua yang selalu memberikan susu pakai botol. “Pokoknya, sedikit-sedikit anak diberi botol supaya cepat diam dari tangisnya.”

Ibu-ibu yang kelewat sibuk bekerja atau malas bercapai-capai hingga segala asupan cairan buat anaknya dilakukan lewat botol, juga ikut mendukung terbentuknya kebiasaan tersebut. “Terlebih bila si anak bangun tengah malam, orang tua yang pemalas pasti akan memberikan botol kepada anak daripada memberikan gelas. Bukankah jika dengan gelas, berarti si ibu harus rela menunggui dan membantu anaknya minum?”

Tak tertutup kemungkinan karena orang tua kurang perhatian pada anak. “Orang tua baru sadar kalau anaknya masih menyusu dari botol setelah kebiasaan ini berlangsung hingga si anak besar.” Jika ini yang terjadi, “kebangeten, deh, si orang tua! Masa kebiasaan anak sendiri yang setiap hari ketemu tak tahu-menahu? Jika hal kecil itu saja sudah tak terperhatikan, apalagi hal-hal yang lain seperti tumbuh kembang anak.”

Hati-hati, lo, Bu-Pak, anak yang tak terperhatikan bisa merasa sakit hati. “Kok, Bunda enggak pernah memperhatikan aku, sih? Tiap hari sibuk kerja melulu,” misal. Akibatnya, anak sengaja melakukan perbuatan menyusu dari botol dengan harapan ibunya akan menegur. “Biasanya, si ibu pun melihat kebiasaan anaknya ini, mau tak mau akan menegur. Dengan demikian, sukseslah rencana anak dalam mencari perhatian kedua orang tuanya.”

Namun bila selama ini si kecil sudah lepas dari botolnya tapi tiba-tiba ia kembali menyusu dari botol, “bisa jadi gara-gara ia punya adik baru.” Bukankah dengan kehadiran adik, biasanya perhatian ayah-ibu akan beralih pada si adik? Akibatnya, ia merasa takut tak disayang dan diperhatikan lagi oleh orang tuanya. Nah, dengan kembali menyusu dari botol, ia ingin menunjukkan bahwa ia pun harus diperhatikan seperti dulu sebelum punya adik, atau ia ingin ibu-ayahnya juga memperhatikan dirinya, bukan cuma adiknya.

Menurut Mien, salah besar jika ibu tak lagi memperhatikan si sulung setelah adiknya lahir. “Jangan dikira karena si prasekolah sudah bisa mandiri, maka ia tak perlu lagi diperhatikan, lo.” Walau bagaimanapun, tegasnya, seorang ibu harus tetap membagi perhatian dan kasih sayangnya secara seimbang antara si adik dan si kakak.

TAK BOLEH DIBIARKAN

Kebiasaan ini tentulah tak boleh dibiarkan berkelanjutan, karena tak sesuai lagi dengan perkembangan anak yang harusnya sudah tak menyusu dari botol. Apalagi, bilang Mien, kebiasaan ini hanya menunjukkan ada ketergantungan terhadap botol dan ibu, hingga si anak nantinya akan selalu tergantung pada orang tua.

Dampaknya, “bisa saja kebiasaan ini menjadikan dirinya sebagai anak mami yang manja dan bila punya masalah langsung lari pada botolnya. Ia jadi tak terbuka, mengalami tantangan sedikit saja, larinya selalu ke botol.” Jadi, ia tak berusaha mandiri. Padahal, anak usia prasekolah harusnya sudah mampu mandiri.

Selain itu, anak usia prasekolah harusnya juga mulai bisa bergaul dengan lingkungan luar. “Nah, jika anak masih saja ketergantungan pada botol dan ibunya, bagaimana ia akan bersosialisasi dengan lingkungan luar rumah?”

Dampak lain, ia bisa menjadi minder atau rendah diri, lo. Soalnya, bila kebiasaannya itu sampai terlihat teman-temannya, ia pasti akan jadi bahan cemoohan atau ejekan.

BERI PENGERTIAN

Itulah mengapa, para ahli menganjurkan agar sedini mungkin anak disapih dari botol. Selain akhirnya anak jadi ketergantungan, untuk menghentikannya pun akan susah jika sudah ketergantungan. Namun tetap harus diupayakan untuk menyapih si kecil dari botolnya, ya, Bu-Pak. Ingat dampaknya, lo!

Saran Mien, sapihlah secara bertahap. Misal, bila dalam sehari si kecil minum susu 3 kali, maka yang satu kalinya atau yang pagi harinya, susu diberikan dalam gelas. Makin lama, minum susu dalam botol dikurangi hingga tinggal sekali sementara yang dua kali pakai gelas, sampai akhirnya si kecil terbiasa minum pakai gelas dan melupakan botolnya.

“Boleh juga awalnya pakai sedotan dulu ataupun gelas yang ada corongnya. Selanjutnya, secara perlahan si anak digiring supaya mau benar-benar minum pakai gelas.” Bisa juga kita buat perjanjian lebih dulu. Misal, “Kalau pagi, Kakak boleh minum susu dari botol, tapi siang dan malam harus pakai gelas, ya.” Jika si kecil tak mau, “beri dorongan atau bujukan agar ia mau minum dari gelas.”

Namun si kecil juga harus diberi pengertian, lo. Misal, “Kakak, kan, sekarang sudah besar. Kakak sudah bisa memegang gelas dan minum pakai gelas. Sebentar lagi Kakak juga mau masuk ’sekolah’, masa tak malu masih minum susu dari botol. Coba, deh, lihat teman-teman Kakak di ’sekolah’ pasti tak ada yang minum susu dari botol. Lagian, gigi Kakak juga bisa cepat rusak, lo, kalau terus-menerus menyusu dari botol.” Pokoknya, tegas Mien, kita harus rajin memberikan pengertian kepada si kecil. Tentu bahasa yang digunakan harus sederhana dan mudah dicerna anak seusianya.

Dengan memberi pengertian secara kontinyu, Mien yakin, akhirnya si kecil pasti mau mengubah kebiasaannya itu. Namun ingat, lo, jangan sekali-sekali menyetopnya sekaligus. “Cara ini takkan efektif, malah membuat anak melakukan pemogokan.”

BERI HADIAH

Tentunya, keberhasilan kita menghentikan kebiasaan si kecil menyusu dari botol, juga ditentukan dari tega-tidaknya kita melakukan tindak penyapihan ini. Apalagi pertama-tama disapih, si kecil pasti rewel dan mengamuk atau malah menjalankan aksi diam.

Jadi, perlu ketegasan dan kedisiplinan dari kita. “Sekalipun ia menangis atau mengamuk, kita harus tetap menegakkan aturan tersebut: mana yang boleh dan tak boleh dilakukan anak,” bilang Mien. Soalnya, bila kita tak tegas dan konsisten, si kecil malah akan kembali pada kebiasaannya itu.

Nah, untuk memotivasi si kecil agar mau menghilangkan kebiasaannya itu, kita bisa lakukan dengan memberinya hadiah. Tentu kita harus konsekuen: bila kita sudah menjanjikan ia akan dapat hadiah, maka kita harus menepatinya. Kalau tidak, si kecil akan merasa dipermainkan dan ditipu, “Ah, percuma saja aku minum pakai gelas. Habis, Bunda kemarin berbohong, tak memberikan hadiah.”

Namun hadiah yang diberikan sebaiknya jangan yang bisa dijadikan senjata oleh anak. Jadi, jangan sampai anak mau melakukannya karena mengharapkan imbalan. “Paling baik, hadiahnya berupa ucapan dan rasa kasih sayang.” Hadiah berupa pujian, apalagi diucapkan dengan penuh kasih sayang, akan lebih mengena di hati anak. Dengan begitu, anak akan merasa dihargai hingga membangkitkan self confidence-nya.

TAK USAH MARAH

Sebaliknya, pesan Mien, jangan sekali-kali menghukum anak dengan cara memarahinya, sekalipun kita harus bersikap tegas padanya. Selain cara ini tak membuahkan hasil, nantinya malah membuat anak makin menjadi-jadi dan sakit hati. Anak, toh, tak mengerti kenapa ia dimarahi, “Kata Bunda, minum susu itu sangat baik dan bisa membuat aku jadi pintar. Kok, sekarang aku malah dimarahi.” Karena sakit hati, anak jadi bertambah kuat keinginannya untuk minum susu dari botol, “Biarin, aku maunya pakai botol.” Bukankah di usia ini anak juga sudah dapat menunjukkan ego atau keakuannya? “Aku, kan, sudah besar. Kenapa harus dimarahi dan disuruh-suruh. Aku maunya pakai botol, kok!”

Lagi pula, kemarahan kita hanya membuat si kecil merasa tak nyaman, hingga ia pun makin menjadi-jadi melakukan perbuatannya itu. Ingat, minum susu dari botol membuatnya aman dan nyaman! Bahkan dalam beberapa kasus, anak seusia ini malah senang jika melihat orang tuanya marah atau jengkel. Hingga, ia pun melakukannya lagi supaya orang tuanya marah. “Jadi, ia malah melakukan sesuatu yang justru kita enggak suka.” Apalagi dengan kita marah, bukankah berarti ia telah berhasil menarik perhatian kita?

Mungkin kuncinya cuma tega, sabar, konsisten, dan memberi reward, ya, Bu-Pak.

Gazali Solahuddin. Foto : Rohedi (nakita)

Mei 22, 2009 Ditulis oleh lukman hakim | Anak, cinta, syareah, wanita | , , , , , , , | No Comments Yet

ASI PERAS, SOLUSI BUAT IBU BEKERJA

Jadi, Bu, tak ada alasan untuk tak memberi ASI eksklusif pada si kecil. Sangat dianjurkan menyimpan ASI peras di lemari es karena tahan 2 hari dan kualitasnya pun tak berubah. Sekitar 70 persen ibu di Indonesia bekerja. Ini berarti, banyak ibu yang tak bisa menyusui. Namun bukan berarti si kecil tak bisa mendapatkan ASI sama sekali. Toh, ASI bisa diperas. Dengan begitu, si kecil bisa tetap memperoleh ASI, bahkan ASI eksklusif yaitu hanya ASI tanpa makanan tambahan apa pun hingga si kecil berusia 6 bulan.  Hanya sayang, ASI peras tak bisa menggantikan tindakan menyusui itu sendiri. Seperti diketahui, tindakan menyusui punya banyak pengaruh untuk pertumbuhan mental dan fisik bayi. “Kalau saja semua bayi mendapatkan exclusive breast feeding minimal 4 bulan, saya yakin tak akan ada tawuran seperti sekarang ini. Karena anak-anak yang diberi ASI akan tumbuh menjadi anak yang kepribadiannya baik, lantaran mereka tumbuh dalam keadaan yang dinamakan secure attachment, suatu suasana yang aman, hingga mereka akan mempunyai kepribadian yang baik,” tutur dr. Utami Roesli, SpA, MBA. Itu sebab, ASI peras hanya dianjurkan bagi bayi-bayi yang ibunya bekerja. “Bila ibu tak bekerja atau si bayi bisa dibawa ke tempat di mana ibunya berada, harus diusahakan breast feeding atau menyusui langsung, bukan ASI peras,” lanjut ketua Lembaga Peningkatan Penggunaan Air Susu Ibu RS Sint. Carolus, Jakarta ini. Jadi, Bu, hanya bila situasi dan kondisinya tak memungkinkan untuk menyusui langsung, barulah si kecil boleh diberi ASI peras/perah. “Ibaratnya, tak ada rotan, akar pun jadi.”  POMPA PISTON  Namun sebelum kita memberikan ASI peras pada si kecil, ada beberapa “aturan” yang penting diperhatikan. Pertama, sebelum si kecil berusia 4 bulan, sebaiknya ASI peras/perah yang diberikan jangan menggunakan dot dulu karena si kecil akan “bingung puting.” Maksudnya, ia akan susah untuk kembali menyusu dengan benar pada payudara ibu. Kedua, bila sudah berada satu atap lagi dengan si kecil, hendaknya ASI peras yang masih ada jangan diberikan lagi, tapi bayi harus menyusu langsung pada ibu. Bukankah tindakan menyusui adalah rotan? Jadi, bila ada rotan, mengapa harus menggunakan akar?  Adapun cara “menabung” ASI peras, yang paling baik dan efektif dengan menggunakan alat pompa ASI elektrik. Hanya saja, harganya relatif mahal. Lagi pula, masih ada cara lain yang lebih terjangkau bila punya dana lebih, yaitu piston atau pompa berbentuk suntikan. Prinsip kerja alat ini memang seperti suntikan, hingga memiliki keunggulan, yaitu setiap jaringan pompa mudah sekali dibersihkan dan tekanannya bisa diatur.  Ironisnya, pompa-pompa yang ada di Indonesia jarang sekali berbentuk suntikan, lebih banyak berbentuk squeeze and bulb. Padahal, harga kedua pompa tersebut relatif sama. Namun bentuk squeeze and bulb tak pernah dianjurkan banyak ahli ASI. Soalnya, pompa seperti ini sulit dibersihkan bagian bulb-nya (bagian belakang yang bentuknya menyerupai bohlam) karena terbuat dari karet hingga tak bisa disterilisasi. Selain itu, tekanannya tak bisa diatur, hingga tak bisa sama/rata.  MEMERAH DENGAN JARI  Tentu saja ada yang lebih murah ketimbang pompa-pompa ASI tadi, yaitu memerah dengan jari. Cara back to nature ini amat sederhana dan tak perlu biaya. Namun agar hasil perahannya memuaskan, kita perlu mengenal sedikit anatomi payudara.  Seperti dijelaskan Utami, payudara terdiri tiga komponen yang prinsipil, yaitu “pabrik” (di daerah berwarna putih), saluran, dan “gudang” (di daerah warna cokelat atau areola) ASI. Ketiganya seperti bejana berhubungan. “ASI diproduksi di ‘pabrik’nya yang berbentuk seperti kumpulan buah anggur. Setiap ‘pabrik’ ASI dilalui otot-otot. Bila otot-otot ini mengkerut, ia akan memompa ASI ke salurannya menuju ‘gudang’. Nah, agar pabrik memproduksi ASI lagi, syarat utamanya ASI di ‘gudang’ harus habis lebih dulu. Bila ‘gudang’ kosong, barulah ‘pabrik’ akan mengisinya kembali, begitu seterusnya,” papar Utami.  Jadi, pada prinsipnya kita harus bisa mengeluarkan ASI yang ada di “gudang”. Caranya, tempatkan tangan kita di salah satu payudara, tepatnya di tepi areola. Posisi ibu jari terletak berlawanan dengan jari telunjuk. Tekan tangan ke arah dada, lalu dengan lembut tekan ibu jari dan telunjuk bersamaan. Pertahankan agar jari tetap di tepi areola, jangan sampai menggeser ke puting. Ulangi secara teratur untuk memulai aliran susu. Putar perlahan jari di sekeliling payudara agar seluruh saluran susu dapat tertekan. Ulangi pada sisi payudara lain, dan jika diperlukan, pijat payudara di antara waktu-waktu pemerasan. Ulangi pada payudara pertama, kemudian lakukan lagi pada payudara kedua. Letakan cangkir bermulut lebar yang sudah disterilkan di bawah payudara yang diperas.  CARA MENYIMPAN  Sebenarnya, tutur Utami, memerah ASI hampir sama dengan mengeluarkan pasta gigi. Bila kita hanya menekan ujung pasta gigi, tentu pastanya tak akan keluar. Jadi, kita harus menekan agak ke belakang. “Bila tak keluar banyak, kemungkinan teknik ibu salah. Mungkin cara memerah susunya seperti melakukan massage payudara. Ini tak akan mengeluarkan ASI, karena yang ditekan pada massage payudara adalah ‘pabrik’ ASI bukan ‘gudang’nya. Kan, kita tak bisa langsung mengeluarkan ASI dari ‘pabrik’ tapi harus melalui ‘gudang’ dulu.” Jadi, bila tekniknya sudah benar, lama-kelamaan memerah ASI akan menjadi pekerjaan biasa. Waktu yang dibutuhkan pun tak sampai setengah jam, tapi susu yang terkumpul bisa mencapi 500 cc, lo.  Setelah diperah, ASI harus di simpan dengan baik agar dapat bertahan lama. Menurut Utami, di udara terbuka, ASI perah bisa tahan 6-8 jam, tapi bila ditaruh di kantong plastik lalu dimasukan termos dan diberi es batu, akan tahan kira-kira 1X 24 jam. Lain lagi bila ASI perah dimasukan di lemari es, bisa tahan 2X24 jam. Sedangkan bila dimasukkan dalam freezer, bisa tahan 3 bulan.  Namun dari semua cara penyimpanan tadi, lebih dianjurkan untuk memasukkan ASI ke dalam termos dan lemari es. “Sudah dibuktikan, lo, ASI perah yang dimasukkan ke termos dan lemari es tak mengalami perubahan komposisi gizi sama sekali. Hanya mungkin warna dan bentuknya saja yang berubah.” Tak demikian halnya jika dimasukkan dalam freezer, “ASI akan mengalami perubahan dalam hal jumlah imunoglobulin, yaitu protein molekul yang berfungsi sebagai daya tahan tubuh, karena ada yang mati akibat kedinginan.”  SUAPI PAKAI SENDOK  Selanjutnya, ketika ingin memberikan ASI perah pada si kecil, kita harus menghangatkannya dulu. Namun jangan dipanaskan di atas api, lo, karena mengakibatkan beberapa enzim penyerapan mati kepanasan. Beberapa buku dari luar menganjurkan untuk menyiram ASI dengan running tap water, tapi di Indonesia, kan, jarang ada keran yang berisi air hangat. Jadi cukup dengan mangkuk yang diisi air hangat (suhu airnya sama dengan suhu air yang biasa kita gunakan untuk mandi atau suhu tubuh). Adapun lama penghangatan tergantung suhu ASI, tapi prinsipnya buatlah suhu ASI seperti suhu tubuh karena akan menyerupai ASI yang dikeluarkan langsung. Nah, setelah selesai bisa langsung diberikan pada bayi.  Namun cara pemberiannya jangan pakai botol susu dan dot, melainkan disuapi pakai sendok. Kalau si kecil langsung menyusu dari botol, lama-lama ia jadi “bingung puting”. Jadi, ia hanya menyusu di ujung puting seperti ketika menyusu dot. Padahal, cara menyusu yang benar adalah seluruh areola ibu masuk ke mulut bayi. Jadi, kalau si kecil sudah “bingung puting”, tak heran bila ia gagal mengeluarkan ASI di “gudang”nya. Salah satu tanda posisi si kecil salah menyusu ialah payudara ibu lecet. Akhirnya, si kecil jadi ogah menyusu langsung dari payudara lantaran ia merasa betapa sulitnya mengeluarkan ASI. Sementara kalau menyusu dari botol, hanya dengan menekan sedikit saja dotnya, susu langsung keluar.  Tak usah cemas si kecil akan kekurangan ASI berapapun jumlah ASI perah yang dikeluarkan. Memang, pada awalnya si kecil akan gelisah dengan jumlah yang mungkin lebih sedikit dari biasanya, tapi bayi akan cepat beradaptasi, kok. “Maksimal pada hari keempat, bayi akan sudah terbiasa. Seberapa pun ASI yang ada, akan diminum. Kalau ditinggali 500 cc, akan diminum; begitu juga 300 cc, bahkan 200c. Namun ketika ibunya datang, ia akan minum habis-habisan. Jadi, bayi tak akan kekurangan ASI. Itu sudah dibuktikan, lo,” tutur Utami.  Nah, Bu, tak ada lagi yang perlu dicemaskan, bukan? Ingat, lo, meski bunda bekerja, si kecil tetap bisa mendapatkan ASI ekslusif!  Faras Handayani . Foto : Iman (nakita)

Jangan Cepat-Cepat Mengganti Asi Dengan Susu Formula Banyak ibu mengira ASI-nya sedikit hingga si kecil pun diberikan susu formula. Padahal, tegas Utami, tak ada ibu yang kekurangan ASI. “Jika bayi kekurangan ASI, bukan lantaran ibunya yang tak bisa memproduksi susu sebanyak yang diperlukan bayi, melainkan bayinya yang tak bisa mengambil dari si ibu sebanyak yang diperlukan,” terangnya. Jadi, jangan dibalik, ya, Bu!  Nah, mengapa si kecil tak bisa mengambil ASI sebanyak yang ia perlukan, tak lain lantaran cara menyusunya yang salah. Jadi, kalau si kecil harusnya memperoleh ASI sebanyak 100 cc, misal, tapi karena cara menyusunya salah hingga yang didapat cuma 50 cc, akibatnya yang dipasok “pabrik” pun cuma 50 cc. Itu sebab, harus diperhatikan betul cara menyusu pada si kecil. Yang benar, seperti sudah diutarakan di atas, yaitu seluruh areola ibu masuk ke mulut si kecil.  Faktor lain yang membuat si kecil kekurangan ASI lantaran ibu mengintervensi bayinya dengan macam-macam. Antara lain, begitu lahir si kecil langsung diberi susu formula yang sebetulnya enggak perlu. Belum lagi ketika memberi ASI perah pakai botol susu dan dot, bukan disuapi pakai sendok.  Hani

Persiapan Memerah * Waktu yang paling tepat untuk memerah ASI ketika payudara sedang penuh, bisa diulang kembali sekitar 3-4 jam.  * Alat-alat yang akan digunakan untuk memerah harus dibersihkan/disetrilisasi lebih dulu. Sebaiknya selesai memerah, alat-alat tersebut langsung dibersihkan hingga tetap terjaga kebersihannya.  * Ketika memerah, sebaiknya ibu dalam keadaan tenang dan nyaman. Pilih ruangan yang memungkinkan ibu tak terganggu apa pun. Lebih baik lagi bila si kecil ada yang menjaga hingga konsentrasi ibu tak terganggu.  * Cuci tangan dengan sabun dan air tiap kali hendak mulai memerah, sedangkan payudara cukup dicuci dengan air. Jangan gunakan sabun atau apa pun pada puting.  * Minumlah satu gelas air/sari buah/susu/secangkir sup atau kacang ijo sebelum memerah ASI.  Hani

Mei 22, 2009 Ditulis oleh lukman hakim | Anak, cinta, ilmu pengetahuan, keluarga, syareah, wanita | , , , , , | No Comments Yet

Jangan Takut Jatuh Cinta

Tatkala usia terus merangkak naik sementara calon suami tak kunjung datang, segera keresahan mulai melanda. Pada masa-masa yang terbilang cukup rawan ini seringkali tanpa disadari, ada perilaku-perilaku yang mestinya tak layak dilakukan oleh seorang muslimah yang ‘kadung’ dijadikan teladan dilingkungannya. Ada muslimah yang menjadi sangat sensitif terhadap acara-acara pernikahan ataupun wacana-wacana seputar jodoh dan pernikahan. Atau bersikap seolah tak ingin segera menikah dengan berbagai alasan seperti karir, studi maupun ingin terlebih dulu membahagiakan orang tua. Padahal, hal itu cuma sebagai pelampiasan perasaan lelah menanti jodoh.

Sebaliknya, ada juga muslimah yang cenderung bersikap over acting. terlebih bila sedang menghadiri acara-acara yang juga dihadiri lawan jenisnya. Biasanya, ia akan melakukan berbagai hal agar “terlihat”, berkomentar hal-hal yang tidak perlu yang gunanya cuma untuk menarik perhatian, atau aktif berselidik jika mendengar ada laki-laki shaleh yang siap menikah. Seperti halnya wanita dimata laki-laki, kajian dengan tema “lelaki” pun menjadi satu wacana favorit yang tak kunjung usai dibicarakan dalam komunitas muslimah.

Haruskah terus menerus bersikap membohongi diri seperti contoh pertama diatas. Betapa lelahnya kita ketika harus berbuat seperti itu sementara seolah tidak ada lagi yang bisa dilakukan selain menunggu dan berharap semoga Allah segera mendatangkan pilihan-Nya. Atau masihkah tidak merasa malu untuk menghinakan diri dengan aksi over acting dan ‘caper’.

Menurut Fauzil Adhim, banyaknya muslimah yang belum menikah di usianya yang sudah cukup rawan bukannya tidak siap, tetapi karena mereka tidak pernah mempersiapkan diri. Kesiapan disini, termasuk di dalamnya adalah kesiapan untuk menerima calon yang tidak sesuai dengan kriteria yang diinginkan sebenarnya, meski jika ditilik kembali sesungguhnya lelaki tersebut sudah memiliki persyaratan yang ’sedikit’ lebih dibanding lelaki biasa. Misalnya, setidaknya sholatnya benar, akhlaqnya baik, tidak berbuat syirik dan pergaulannya tidak jauh dari orang-orang shaleh. Artinya, lanjut Fauzil, tidak usah mematok kriteria terlalu tinggi. Walaupun sebenarnya, sah-sah saja untuk melakukannya.

Pada keadaan tertentu, seringkali para muslimah seperti tidak berdaya mengatasi kelelahannya mencari -menunggu- jodoh. Padahal, ada satu hal yang boleh dan sah saja untuk dilakukan oleh seorang muslimah, yakni menawarkan diri untuk dipinang. Hanya saja, selain masih banyak yang malu-malu membicarakannya, banyak pula yang menganggap hal ini sebagai sesuatu yang tabu, karena tidak pernah dicontohkan oleh para orang tua kita. Asalkan pada lelaki yang baik-baik, dalam pandangan Islam sah-sah saja wanita menawarkan diri untuk dipinang.

Senada dengan Fauzil Adhim, Ustadz Ihsan Tanjung dalam salah satu rubrik konsultasi keluarga pernah mengatakan, seorang muslimah sebaiknya mengungkapkan perasaannya -keinginannya untuk dilamar- kepada seorang lelaki shaleh yang menjadi pilihannya, ketimbang dia lebih mungkin terkena dosa zina hati karena terus menerus mengharapkan si lelaki tanpa kejelasan atau kepastian.

Hanya saja, yang mungkin perlu diperhatikan adalah seberapa tinggi daya tawar yang dimiliki oleh para muslimah itu ketika dia harus mengungkapkan perasaannya. Pertanyaan yang sering muncul adalah “seberapa pantas dirinya” saat meminta si lelaki untuk melamar dan menikahinya. Untuk hal ini, sepantasnya bukan kata-kata terlontar dari mulut untuk mengkhabarkan kepantasan diri. Namun, dengan mempertinggi kualitas keshalehahan tanpa mengagungkan kecantikan wajah, mengkedepankan akhlaq yang baik sebagai pakaian sehari-harinya disamping juga ia perlu membenahi penampilannya untuk sekedar meningkatkan kepercayaan diri, dan menjaga mata pandangannya untuk selalu bercermin kepada hati, karena disanalah cinta dapat berkembang.

Bagi mereka, Kepentingan menghaluskan wajah tidak mengalahkan kepentingannya untuk menghaluskan jiwanya, karena kecantikan yang murni justru terpancar dari jiwa yang cantik (inner beauty). Kecantikan seperti inilah yang senantiasa tumbuh sepanjang waktu. Jika hal-hal itu sudah dipersiapkan sebaik mungkin dan terpatri menjadi hiasan diri, maka melangkahlah untuk menjemput impian. Namun demikian, perlu juga rasanya untuk melatih menata hati dan berjiwa besar jika terpaksa harus bertepuk sebelah tangan atau menerima kenyataan diluar harapan. Wallahu a’lam bishshowaab

Mei 20, 2009 Ditulis oleh lukman hakim | cinta, keluarga, wanita | , , , , , | No Comments Yet